News

UNICEF Laporkan Ribuan Anak Menjadi Korban dalam Konflik Timur Tengah

PBB (KABARIN) - UNICEF melaporkan bahwa lebih dari 2.100 anak menjadi korban tewas maupun luka-luka sejak konflik di kawasan Timur Tengah kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir.

Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, Ted Chaiban, menyampaikan bahwa situasi yang berlangsung selama 23 hari terakhir telah memberikan dampak sangat besar terhadap anak-anak di berbagai negara.

"Dua puluh tiga hari setelah konflik yang semakin memanas di Timur Tengah, anak-anak di seluruh kawasan tersebut menanggung penderitaan yang sangat berat. Konflik yang semakin meluas atau berkepanjangan akan menjadi bencana bagi jutaan orang lainnya," kata Chaiban saat memberikan keterangan di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

Data yang disampaikan menunjukkan korban anak tersebar di sejumlah negara, dengan jumlah terbesar tercatat di Iran dan Lebanon. Sementara itu, korban juga dilaporkan terjadi di Israel dan Kuwait.

"Itu berarti rata-rata sekitar 87 anak tewas atau terluka setiap hari sejak awal perang," kata Chaiban.

Selain korban jiwa, konflik ini juga memicu gelombang pengungsian dalam jumlah besar akibat serangan yang terus berlangsung dan perintah evakuasi di sejumlah wilayah.

Di Iran, jutaan warga dilaporkan mengungsi, termasuk ratusan ribu anak. Sementara di Lebanon, lebih dari satu juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, dengan sebagian besar di antaranya adalah anak-anak.

Bahkan sebelum eskalasi terbaru, puluhan juta anak di kawasan Timur Tengah sudah hidup di wilayah yang terdampak konflik. Kondisi ini kini semakin memburuk seiring meningkatnya intensitas pertempuran.

Saat meninjau langsung kondisi di Lebanon, Chaiban menyebut situasi di lapangan membutuhkan perhatian serius dari komunitas internasional. Banyak sekolah dialihfungsikan menjadi tempat penampungan, yang berdampak pada terganggunya proses belajar ribuan siswa.

Layanan dasar seperti air bersih dan kesehatan juga mengalami tekanan berat. Sejumlah tenaga medis bahkan dilaporkan menjadi korban saat menjalankan tugas kemanusiaan.

Meski bantuan terus disalurkan, UNICEF mengingatkan bahwa kebutuhan di lapangan meningkat jauh lebih cepat dibandingkan dengan sumber daya yang tersedia.

"Kami mengingatkan semua pihak tentang kewajiban mereka berdasarkan hukum humaniter internasional," kata Chaiban.

Ia juga menegaskan kembali seruan dari pimpinan PBB yang menilai situasi ini membutuhkan upaya meredakan konflik dan penyelesaian melalui jalur politik agar krisis tidak semakin meluas.

Pewarta: Xinhua
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: