Banda Aceh (KABARIN) - Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh dalam beberapa hari terakhir meninggalkan kerusakan serius pada infrastruktur utama—total 26 titik jalan nasional dan jembatan terputus.
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Heri Yugiantoro, menjelaskan bahwa hingga Sabtu sore, tercatat 14 jembatan putus:
- 2 di lintas Timur
- 11 di lintas Tengah
- 1 di lintas Barat
Selain itu, terdapat 12 titik jalan nasional yang terputus akibat tanah longsor yang tersebar di tiga jalur utama Aceh.
Menurut Heri, kerusakan jembatan memerlukan dua jenis penanganan darurat.
Pertama, melakukan penimbunan jalan pendekat yang terputus menggunakan boulder, sandbag, dan material timbunan.
Kedua, memasang jembatan darurat tipe Bailey, lengkap dengan perkuatan di area abutment.
Untuk ruas jalan yang tertutup longsor, BPJN bergerak cepat menempatkan rambu darurat, menurunkan petugas PPK, mengerahkan alat berat, serta melakukan perkuatan lereng dan pelebaran jalur agar kendaraan dapat melintas lebih aman.
Banjir mulai surut
Dari total titik banjir yang sebelumnya menutup badan jalan nasional, 10 di antaranya mulai surut. Tim di lapangan masih bekerja membersihkan lumpur, material kayu, hingga sisa-sisa debris yang menumpuk di badan dan bahu jalan.
Drainase yang tersumbat pun kembali dibuka agar aliran air bergerak lebih cepat ke saluran pembuangan. BPJN juga mulai menginventarisasi kerusakan untuk menentukan langkah perbaikan lanjutan.
Untuk saat ini, BPJN belum bisa merilis angka estimasi kerugian dari keseluruhan kerusakan.
“Perhitungannya harus detil dan hati-hati agar perencanaan dan realisasi nantinya tidak meleset,” ujar Heri.
Meski begitu, rangkaian langkah darurat terus dimaksimalkan agar akses di wilayah terdampak segera pulih dan mobilitas masyarakat kembali normal.