Banjir terparah 25 tahun di Thailand selatan: 162 tewas, lebih 1 juta rumah terdampak

waktu baca 2 menit

Istanbul (KABARIN) - Thailand kembali dirundung duka setelah banjir dahsyat melanda wilayah selatan dan menelan korban hingga 162 jiwa pada Sabtu. Bencana yang disebut sebagai banjir terparah dalam 25 tahun terakhir ini telah memengaruhi ritme hidup lebih dari satu juta keluarga di seluruh negeri.

Laporan Thai PBS menyebutkan bahwa Provinsi Songkhla menjadi wilayah paling terdampak, dengan angka korban tewas mencapai 126 orang—sebuah lonjakan serius yang membuat perhatian publik tertuju penuh pada kawasan tersebut.

Provinsi lain di Thailand selatan juga mengalami kondisi serupa:

  • Nakhon Si Thammarat: 9 korban tewas
  • Phattalung: 4 korban
  • Trang: 2 korban
  • Satun: 5 korban
  • Pattani: 7 korban
  • Yala: 5 korban
  • Narathiwat: 4 korban

Banjir besar ini membuat ribuan warga terjebak di rumah mereka sepanjang pekan, memicu operasi penyelamatan masif dan serangkaian bantuan darurat.

Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, langsung turun tangan dengan menjanjikan kompensasi finansial bagi keluarga korban meninggal. Ia juga mengumumkan state of emergency di Songkhla, menugaskan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata untuk memimpin operasi darurat.

Dari pernyataan Dirjen Departemen Pencegahan dan Mitigasi Bencana, Teerapat Kachamat, banjir telah meluas ke 105 distrik di sembilan provinsi, berdampak pada lebih dari 2,9 juta warga.

Tim tanggap darurat bekerja tanpa henti, mulai dari evakuasi, distribusi makanan dan air bersih, dapur umum keliling, hingga penyediaan perahu penyelamat dan unit pemurnian air, demi memastikan warga bisa bertahan dalam situasi darurat.

Bencana ini menjadi pengingat pahit tentang semakin rentannya kawasan Asia Tenggara terhadap perubahan iklim ekstrem—sekali lagi menempatkan keselamatan dan kesiapsiagaan sebagai prioritas utama.

Bagikan

Mungkin Kamu Suka