News

PBB Minta Semua Pihak Tahan Diri, Wacana Serangan ke Iran Dinilai Berbahaya

Hamilton, Kanada (KABARIN) - Perserikatan Bangsa-Bangsa kembali menyuarakan kekhawatiran soal memanasnya situasi di Iran. Seorang pejabat senior PBB mengingatkan bahwa pernyataan terbuka terkait kemungkinan serangan militer justru bisa membuat kondisi semakin rumit, di saat gelombang protes di Iran masih terus terjadi.

Peringatan itu disampaikan Martha Ama Akyaa Pobee, Asisten Sekretaris Jenderal PBB, dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB pada Kamis. Ia menyoroti bahwa unjuk rasa yang sudah berlangsung hampir tiga pekan telah berkembang menjadi gejolak berskala nasional dan menelan banyak korban jiwa.

“Selama hampir tiga pekan, aksi protes rakyat di Republik Islam Iran telah berkembang cepat menjadi gejolak nasional, yang mengakibatkan hilangnya banyak nyawa,” kata Pobee.

Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres atas laporan penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat keamanan. Menurutnya, langkah cepat perlu diambil agar tidak ada lagi korban berjatuhan.

Laporan dari pemantau hak asasi manusia menyebutkan adanya penangkapan dalam jumlah besar terkait aksi protes. Jumlah tahanan diperkirakan sudah melampaui 18.000 orang hingga pertengahan Januari 2026, meski data tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya oleh PBB.

Pobee menilai kondisi di Iran masih sangat rentan. Meski skala demonstrasi disebut mulai mengecil dibandingkan pekan sebelumnya, ketegangan belum benar-benar mereda.

“Kami mencatat dengan keprihatinan berbagai pernyataan publik yang mengisyaratkan kemungkinan serangan militer terhadap Iran,” ujar Pobee. Ia menegaskan bahwa campur tangan dari luar hanya akan memperparah situasi yang sudah mudah tersulut.

Menurutnya, semua pihak perlu mengerem langkah yang berpotensi memicu eskalasi lebih besar. Ia menegaskan kembali sikap PBB yang mendorong penyelesaian konflik secara damai sesuai Piagam PBB.

“Prinsip-prinsip itu bukanlah gagasan abstrak, melainkan landasan perdamaian dan keamanan internasional. Prinsip tersebut tetap relevan hingga saat ini sebagaimana pada saat Perserikatan Bangsa-Bangsa didirikan,” katanya.

Rapat darurat ini berlangsung di tengah meningkatnya tensi kawasan, termasuk isu potensi serangan Amerika Serikat terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump diketahui beberapa kali menyatakan dukungan kepada para demonstran Iran sejak gelombang protes anti-pemerintah merebak bulan lalu.

Di sisi lain, pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang berada di balik kerusuhan dan aksi teror dalam rangkaian unjuk rasa tersebut.

Sampai sekarang, otoritas Iran belum mengumumkan data resmi soal jumlah korban tewas maupun total penahanan. Namun, kelompok Human Rights Activists News Agency yang berbasis di AS memperkirakan korban jiwa telah melampaui 2.600 orang, termasuk warga sipil dan aparat keamanan.

Penerjemah: Yoanita Hastryka Djohan
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: