News

Sekarang Waduk di Jakarta Dirancang untuk Atasi Curah Hujan Ekstrem

Jakarta (KABARIN) - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai tancap gas menyiapkan infrastruktur pengendali banjir yang lebih tangguh. Lewat Dinas Sumber Daya Air (SDA), Jakarta kini merancang waduk dan embung yang sanggup menampung air hujan ekstrem, bahkan dengan intensitas di atas 150 milimeter per hari.

Salah satu contohnya adalah Embung Kebagusan yang berlokasi di Jalan Baung, Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Embung ini menjadi bagian dari strategi baru Pemprov DKI untuk menghadapi curah hujan yang makin tak terduga.

“Kami sekarang mendesain infrastruktur dengan curah hujan di atas 200 mm per hari. Embung Kebagusan ini didesain dengan intensitas curah hujan 221 mm per hari,” kata Kepala Dinas SDA DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum di Jakarta, Jumat.

Embung Kebagusan memiliki luas sekitar dua hektare dan berfungsi sebagai tampungan air sementara saat hujan deras. Kehadirannya ditujukan untuk mereduksi debit banjir di sistem Saluran Penghubung Joe, yang menghubungkan Kali Mampang dan Kali Krukut. Secara hitungan teknis, embung ini mampu mengurangi debit air sekitar 2,3 persen.

Sebelum Embung Kebagusan dibangun, debit air di sistem Kali Mampang–Krukut mencapai sekitar 30,07 meter kubik per detik. Setelah embung beroperasi, debit air tersebut bisa ditekan menjadi sekitar 29,38 meter kubik per detik.

“Konsepnya, sebelum aliran itu mengalir di pertemuan Kali Krukut dan Kali Mampang, di atas atau di hulunya kami tangkap terlebih dulu (di Embung Kebagusan). Harapannya, sampai di Kali Mampang sudah terjadi penurunan,” jelas Ika.

Dengan skema tersebut, genangan dan banjir di wilayah Pegangsaan Dua—yang selama ini dikenal sebagai kawasan langganan banjir akibat luapan Saluran Penghubung Joe—diharapkan bisa berkurang.

Embung Kebagusan sendiri merupakan satu dari tujuh proyek embung dan waduk yang saat ini sedang dibangun Pemprov DKI Jakarta. Hingga sekarang, Jakarta sudah memiliki sekitar 50 embung aktif.

“Potensi selain 50 plus tujuh tadi, ada kurang lebih 93,” ujar Ika.

Menurutnya, pembangunan embung dan waduk menjadi bagian penting dari strategi pengendalian banjir. Selain meningkatkan kapasitas sungai dan membangun polder, Pemprov DKI juga menambah ruang terbuka biru sebagai area tampungan air.

“Jadi, selain membangun polder, meningkatkan kapasitas sungai, kami juga membuat tampungan-tampungan air dalam bentuk ruang terbuka biru,” ungkapnya.

Ke depan, Pemprov DKI memastikan pembangunan waduk dan embung akan terus dilanjutkan sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir terpadu. Targetnya jelas: Jakarta lebih siap menghadapi hujan ekstrem dan risiko banjir yang makin sering terjadi.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: