Rekomendasi kami sebetulnya selesaikan dulu konflik yang ada. Konfliknya dari yang kecil sampai cukup luas, itu harus jadi prioritas
Kota Bandung (KABARIN) - Tim Ekspedisi Patriot dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan sejumlah rekomendasi pengembangan kawasan transmigrasi setelah melakukan pemetaan kondisi di 29 kawasan transmigrasi dari 21 provinsi.
Dosen ITB sekaligus penanggung jawab Tim Ekspedisi Patriot ITB 2025 Sri Maryati mengatakan hasil pemantauan di lapangan menunjukkan kawasan transmigrasi masih menghadapi berbagai persoalan mendasar, meski tetap menyimpan potensi ekonomi yang besar jika dikelola dengan pendekatan tepat.
“Rekomendasi kami sebetulnya selesaikan dulu konflik yang ada. Konfliknya dari yang kecil sampai cukup luas, itu harus jadi prioritas,” ucapnya di Bandung, Selasa.
Sri menyebut konflik sosial menjadi temuan paling mendesak, baik antarwarga maupun terkait kepastian hak atas lahan. Banyak warga transmigrasi belum memperoleh status tanah yang jelas, sehingga menghambat pengembangan ekonomi dan masuknya investasi.
Selain konflik sosial, pihaknya menemukan kendala infrastruktur dan ketidaksesuaian lahan dengan komoditas yang dikembangkan. Ia mencontohkan adanya wilayah yang ternyata memiliki kandungan batubara sehingga kurang cocok untuk pertanian.
“Sejumlah kawasan transmigrasi awalnya diarahkan pada sektor pertanian, padahal kondisi alam tidak selalu mendukung,” kata Sri Maryati.
“Kalau kita ingin menarik investor besar, infrastruktur sangat diperlukan,” tambahnya.
Meski demikian ITB menawarkan sejumlah rekomendasi solusi kepada pemerintah untuk melakukan penyelesaian konflik sosial dan kepastian lahan sebagai fondasi utama sebelum pengembangan kawasan dilakukan melalui pendekatan ekonomi, sosial, dan infrastruktur.
Menurutnya, pengembangan kawasan transmigrasi tidak hanya bertumpu pada pertanian, tetapi juga sektor lain seperti pariwisata, produk kelautan, dan hilirisasi komoditas lokal.
“Program Tim Ekspedisi Patriot tidak hanya menjadi kegiatan riset, tetapi juga sarana membangun empati dan kolaborasi dengan masyarakat transmigrasi, sekaligus memperkuat harapan pengembangan kawasan yang lebih berkelanjutan,” kata Sri Maryati.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026