Health

Penanganan Stroke Perlu Fokus pada Kualitas Hidup Penyintas

Stroke bukan sekadar peristiwa biologis yang berhenti pada keberhasilan menyelamatkan nyawa. Tapi juga merupakan pengalaman kehidupan yang menuntut pemulihan makna, martabat, dan keberfungsian manusia secara utuh

Depok (KABARIN) - Penanganan stroke kini mulai mengalami perubahan cara pandang. Bukan lagi sekadar menyelamatkan nyawa, tapi juga memastikan penyintas bisa kembali menjalani hidup yang bermakna.

Guru Besar Tetap Keperawatan Neurologi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (UI), Prof. I Made Kariasa, menekankan pentingnya pendekatan baru ini. Menurutnya, keberhasilan penanganan stroke tidak cukup hanya dilihat dari sisi medis seperti turunnya angka kematian atau suksesnya terapi akut.

“Stroke bukan sekadar peristiwa biologis yang berhenti pada keberhasilan menyelamatkan nyawa. Tapi juga merupakan pengalaman kehidupan yang menuntut pemulihan makna, martabat, dan keberfungsian manusia secara utuh,” kata Prof. Made di Kampus UI Depok, Kamis.

Ia menjelaskan, kasus stroke di dunia terus meningkat hingga diproyeksikan mencapai puncaknya pada 2030. Meski angka kematian menurun berkat kemajuan teknologi medis, jumlah penyintas yang hidup dengan berbagai keterbatasan justru semakin banyak.

Artinya, tantangan baru muncul: bagaimana para penyintas ini bisa tetap menjalani hidup dengan kualitas yang baik, bukan sekadar bertahan hidup.

Di Indonesia sendiri, kondisi ini makin terasa. Dengan prevalensi stroke mencapai 8,3 persen, penyakit ini menjadi salah satu beban terbesar dalam sistem kesehatan nasional.

Prof. Made juga menyoroti bahwa stroke tidak hanya dipengaruhi faktor medis, tapi juga gaya hidup dan kondisi sosial. Mulai dari hipertensi, diabetes, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, hingga stres, semuanya berperan besar.

Karena itu, pendekatan penanganan stroke harus lebih menyeluruh. Tidak bisa lagi terpisah-pisah, tapi harus mencakup semua tahap, mulai dari pencegahan, pengobatan, hingga pemulihan jangka panjang.

Dalam hal ini, peran keperawatan neurologi dinilai sangat penting untuk memberikan pendampingan berkelanjutan bagi pasien.

Menurut Prof. Made, perubahan fokus ke arah “life-meaning” atau pemulihan makna hidup jadi kunci agar penyintas stroke bisa kembali mandiri dan menjalani hidup dengan lebih bermartabat.

Dengan pendekatan ini, harapannya penyintas stroke tidak hanya selamat, tapi juga tetap punya kualitas hidup yang baik dan bisa berfungsi secara optimal di tengah masyarakat.

Pewarta: Feru Lantara
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: