Iran Sedang di Atas Angin

waktu baca 6 menit

... setiap gertakan Trump tak membuat Iran ketakutan. Sebaliknya, itu hanya memperkuat keyakinan bahwa Trump tak punya rencana jelas di Iran, dan sekaligus memperkuat keyakinan bahwa Iran sedang di atas angin.

Jakarta (KABARIN) - Sudah hampir sebulan sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, perang yang disebut Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, sebagai "blitzkrieg" itu tak berakhir sesingkat yang diinginkan AS dan Israel.

Padahal perang yang singkat diinginkan baik oleh Presiden AS Donald Trump maupun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Perang yang berlarut-larut akan menghabiskan energi nasional dan menjadi bunuh diri politik untuk penggagasnya, yakni Trump dan Netanyahu, yang sama-sama menghadapi Pemilu yang krusial bagi kelangsungan politik mereka.

Blitzkrieg luas dikenal pada awal Perang Dunia Kedua ketika Jerman Nazi menginvasi Eropa dalam hitungan hari.

Tapi Blitzkrieg versi Trump gagal total. "Rezim Iran tidak tumbang. Rakyat Iran juga tidak memberontak kepada penguasanya," kata Nebenzya, pada 14 Maret lalu.

Nebenzya hanyalah satu dari banyak tokoh global yang menilai Trump salah memperhitungkan kemampuan Iran.

Empat hari setelah Nebenzya mencerca blitzkrieg AS-Israel, harian New York Times di AS mengungkap pengakuan menghebohkan dari para pejabat pemerintahan AS bahwa Trump telah membuat miskalkulasi besar dalam menaksir kemampuan Iran dalam melawan AS-Israel.

Trump sendiri berubah-ubah. Awalnya bilang perang akan berlangsung hanya tiga hari, tapi belakangan bilang telah mencapai kemajuan dalam perundingan pengakhiran perang dengan Iran.

Trump, dan juga Netanyahu, yakin bombardemen udara yang masif bakal melumpuhkan militer dan rezim Iran.

Mereka lupa, tak ada rezim yang tumbang hanya oleh serangan udara.

Mereka berharap Iran berakhir seperti Libya pada 2011 ketika bombardemen NATO melumpuhkan rezim Muammar Gaddafi lalu memicu pembangkangan di dalam negeri.

Mereka yakin dengan membunuhi para pemimpin Iran mulai Ayatullah Ali Khamenei sampai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Ali Larijani, maka "kepala ular" telah dipotong sehingga perlawanan Iran meredup.

Mereka yakin orang-orang Iran yang tak puas kepada pemerintahannya, bakal turun ke jalan untuk meruntuhkan rezim, persis seperti Libya pada 2011.

Ternyata, itu tak terjadi, karena sistem kepemimpinan kolektif kolegial Iran jauh lebih kokoh dibandingkan dengan pemerintahan one man show Gaddafi.

Sistem kepemimpinan Iran tetap berdiri kokoh walau terus menerus diserang oleh aksi ilegal AS-Israel, karena tanpa konsensus global forum PBB dan bahkan tanpa restu parlemennya sendiri.

Lebih buruk dari Bush

Perang Iran adalah serangan terhadap sebuah negara berdaulat, yang seharusnya dikecam dunia, termasuk oleh negara-negara yang konstitusinya mengamanatkan penghormatan terhadap kedaulatan nasional.

Nyaris tak ada yang membela Iran, termasuk Organisasi Konferensi Islam, di mana Iran juga anggotanya.

Padahal serangan Trump di Iran jauh lebih buruk ketimbang yang dilakukan George Bush terhadap Irak pada 2003, walau sama-sama menggunakan alasan yang tak jelas. Paling tidak, Bush menggalang dukungan internasional dan legitimasi PBB lebih dulu sebelum menginvasi Irak.

Anehnya, banyak pihak yang tetap menyalahkan Iran, justru ketika Iran bukan pihak yang memulai perang dan bahkan diserang ketika perundingan nuklir tengah mencapai kemajuan besar.

Bahkan dalam kondisi minim dukungan seperti ini, Iran justru sedang di atas angin, paling tidak menurut mantan kepala badan intelijen Inggris M16, Sir Alex Younger.

Faktanya, tak ada tanda-tanda kemampuan militer Iran mengalami degradasi. Mereka tetap aktif menyerang Israel dan posisi-posisi AS di Teluk. Bahkan mengirimkan rudal ke pangkalan AS di Diego Garcia, jauh di tengah Samudera Hindia.

Jarak Iran ke Diego Garcia lebih jauh ketimbang Iran ke Pulau Kreta di Mediterania di mana kapal induk USS Gerald Ford tengah memperkuat armada tempur AS untuk menyerang Iran.

Itu juga dua kali lipat jarak Iran ke Laut Arab di mana kapal induk USS Abraham Lincoln menjadi basis untuk serangan udara AS ke Iran pada hari-hari pertama perang ini.

Iran jelas tak berniat menghancurkan Diego Garcia. Mereka hanya ingin memberi pesan bahwa jika mereka mau, asset-asset perang paling berharga milik AS seperti USS Gerald Ford dan USS Abraham Lincoln, bisa saja mereka serang.

Iran akan berpikir dua kali untuk benar-benar menghancurkan dua kapal induk AS itu karena wahana perang ini bukan semata alat perang, tapi juga simbol supremasi global AS, yang jika diusik terlalu jauh malah bisa membuat semua komponen bangsa AS bersatu di belakang Trump. Dan ini buruk bagi Iran.

Di dalam negeri AS sendiri, banyak pihak yang tak sepakat dengan Trump, sampai-sampai Direktur Badan Kontraterorisme AS (NCC) Joe Kent, mundur karena menilai Iran bukan ancaman untuk AS.

Kent justru menilai AS dan Trump diseret oleh Israel dan lobi Yahudi di AS agar memerangi Iran. Pandangan ini diamini banyak kalangan di AS.

Para senator Partai Demokrat malah menyimpulkan Trump tak memiliki rencana yang jelas di Iran.

"Trump tak punya satu pun alasan yang jelas untuk melancarkan perang ini," kata Senator Elizabeth Warren setelah Komisi Angkatan Bersenjata Senat menggelar pertemuan tertutup selama dua jam dengan para perang Trump.

Senator Chris Van Hollen lebih tajam lagi. Dia menuding Trump hanya menuruti keinginan Netanyahu, yang selama 40 tahun terobsesi ingin melenyapkan Iran.

Kini Trump berusaha melancarkan invasi darat ke negara yang nyaris tak pernah diduduki oleh kekuatan asing mana pun itu, sejak ribuan tahun silam sampai era modern ini.

Rusia dan China tak akan diam

Lantas, apakah Rusia dan China akan mau menerima rezim Iran yang didikte AS?

Rusia malah memiliki hubungan kesejarahan dan geografi yang kuat dengan Iran. Walau tak berbatasan langsung dengan Rusia, Iran berbatasan dengan Laut Kaspia, yang di mata Rusia, sama vitalnya dengan Laut Hitam dan Laut Baltik.

Rusia akan sangat tidak nyaman jika Iran yang selalu menjadi buffer zone untuk kekuatan-kekuatan besar dunia di masa lalu, dikendalikan oleh AS.

Apalagi sejak lama Rusia melihat AS berusaha menancapkan pengaruh di Trans Kaukasia dan Asia Tengah, termasuk Kazakhstan yang juga berbatasan dengan Laut Kaspia dan memiliki proporsi etnis Rusia yang besar seperti terjadi di Ukraina.

Sulit mengatakan Rusia akan tinggal diam jika AS melancarkan invasi darat ke Iran karena itu sama artinya dengan membiarkan Rusia tercekik di selatan. Apalagi Rusia sudah "kehilangan" Azerbaijan dan Georgia yang berada di utara Iran dan selatan Rusia.

Rusia juga was-was negara-negara Asia Tengah bekas Uni Soviet, termasuk Kazakhstan, jatuh dalam orbit pengaruh AS.

Jika dibiarkan, maka akan sama artinya dengan menaruh moncong meriam di depan Rusia, persis seperti Ukraina.

China juga tak akan tinggal diam. Iran yang pro-AS akan menyulitkan manuver China ke Asia Barat, Eropa tenggara dan Afrika, melalui Prakarsa Sabuk dan Jalan-nya.

Terlebih China sukses membangun hubungan dengan Taliban di Afghanistan, sehingga bisa memuluskan proyek Sabuk dan Jalan hingga jauh ke bagian barat sampai batas Asia, Eropa dan Afrika.

Trump sendiri harus siap menyaksikan bertambah besarnya tekanan di dalam negeri, jika invasi darat dilakukan. Tekanan domestik akan membesar jika semakin banyak peti jenazah berisi jasad prajurit AS, dikirimkan ke AS.

Padahal Trump telah berjanji kepada para pemilihnya untuk menghindari perang yang tak perlu di luar negeri, karena selain menghabiskan anggaran nasional, juga membuat prajurit AS menjadi tumbal untuk perang yang tidak perlu.

Iran tahu betul kegamangan-kegamangan ini. Mereka juga menganggap Trump tak terlalu serius dengan manuver-manuver dan retorika-retorikanya.

Iran tahu Trump sangat sensitif dengan gejolak harga global, karena setiap gejolak harga akan berdampak langsung terhadap posisi politik Trump di dalam negeri.

Untuk itu pula Iran melihat manuver-manuver Trump lebih ditujukan untuk menstimulasi pasar keuangan, ketimbang untuk solusi diplomatik dan politik yang serius.

Alhasil, setiap gertakan Trump tak membuat Iran ketakutan.

Sebaliknya, itu hanya memperkuat keyakinan bahwa Trump tak punya rencana jelas di Iran, dan sekaligus memperkuat keyakinan bahwa Iran sedang di atas angin.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka