Istanbul (KABARIN) - Di balik meja perundingan yang berlangsung panjang di Islamabad, harapan akan terobosan antara Iran dan Amerika Serikat ternyata belum menemukan titik terang.
Setelah hampir 21 jam diskusi intens, kedua pihak harus mengakhiri pertemuan tanpa kesepakatan. Namun bagi Iran, hasil ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa ekspektasi tercapainya kesepakatan dalam satu hari memang tidak realistis.
Menurutnya, hubungan kedua negara masih dibayangi oleh ketidakpercayaan mendalam—terutama setelah konflik berkepanjangan yang disebutnya berlangsung selama 40 hari.
Suasana perundingan pun jauh dari kata hangat. Lebih dari sekadar diplomasi formal, ruang diskusi dipenuhi keraguan dan kecurigaan yang belum sepenuhnya reda.
Negosiasi ini bukan sekadar membahas satu atau dua hal. Ada banyak isu besar yang ikut dibicarakan, mulai dari:
- Ketegangan di Selat Hormuz
- Program nuklir Iran
- Pencabutan sanksi
- Reparasi perang
- Stabilitas kawasan Timur Tengah
Dengan spektrum pembahasan seluas itu, perbedaan pada beberapa poin kunci saja sudah cukup untuk menggagalkan kesepakatan.
Meski belum mencapai hasil akhir, Baqaei mengakui bahwa ada kemajuan di beberapa aspek. Namun, perbedaan tajam pada dua atau tiga isu utama menjadi penghalang besar.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan diplomasi sangat bergantung pada sikap kedua belah pihak—terutama soal itikad baik, realistis dalam tuntutan, dan menghormati kepentingan masing-masing negara.
Dalam proses ini, Pakistan memainkan peran penting sebagai mediator. Iran pun menyampaikan apresiasi atas upaya dan sambutan hangat yang diberikan selama perundingan berlangsung.
Namun, meski sudah difasilitasi dengan baik, jalan menuju kesepakatan tampaknya masih panjang.
Hingga kini belum ada kepastian apakah perundingan lanjutan akan digelar. Delegasi Iran sendiri telah meninggalkan Pakistan, menandai berakhirnya babak awal dari proses yang kemungkinan masih akan berlanjut.
Satu hal yang pasti: dalam diplomasi tingkat tinggi, terutama antara dua negara dengan sejarah panjang konflik, kesepakatan bukan soal cepat atau lambat—melainkan soal kesiapan untuk saling percaya.
Sumber: ANAD