Jadi, titik tengahnya dicapai, ya, kalau Iran mendapatkan jaminan keamanan dan kedaulatan
Jakarta (KABARIN) - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki babak baru setelah eskalasi memanas pada akhir Februari lalu.
Dalam waktu singkat, masyarakat dunia menyaksikan konflik lama yang tak pernah benar-benar padam itu kembali mendekati titik didih. Namun, di tengah ancaman konfrontasi terbuka, muncul jeda sempit berupa gencatan senjata sementara selama dua pekan yang membuka ruang bagi diplomasi.
Eskalasi bermula ketika Israel, bersama Amerika Serikat, melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari dengan target utama Ali Khamenei. Selain menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, rangkaian serangan tersebut juga menyebabkan lebih dari 3.000 korban jiwa.
Merespons ancaman terhadap kedaulatannya, Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Iran juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.
Washington kemudian meningkatkan kehadiran militernya, termasuk pengerahan armada laut dan sistem pertahanan udara. Sebagai balasan, Iran menaikkan status siaga militernya dan mengeluarkan peringatan keras terhadap potensi agresi lanjutan.
Situasi ini dengan cepat berkembang menjadi krisis regional. Jalur perdagangan energi global yang melintasi Selat Hormuz pun terancam, sehingga harga minyak sempat bergejolak.
Pemerintah Indonesia terus menyerukan dialog dan diplomasi sebagai jalan tengah, bahkan menyatakan kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator.
Di tengah tekanan internasional, Amerika Serikat dan Iran pada Selasa (7/4) akhirnya sepakat menekan tombol jeda melalui gencatan senjata selama dua minggu setelah mediasi oleh Pakistan.
Namun, gencatan senjata ini sejak awal sudah dipandang rapuh. Iran masih menyimpan kecurigaan terhadap Amerika Serikat yang kerap melanggar kesepakatan. Sebaliknya, Amerika Serikat diduga memanfaatkan jeda ini untuk memperkuat posisinya di Selat Hormuz.
Berikut Kabarin merangkum perkembangan gencatan senjata sementara tersebut hingga hasil perundingan di Islamabad, Pakistan.
Proposal Iran
Selama masa gencatan senjata, Iran mengajukan serangkaian tuntutan yang dituangkan dalam sebuah proposal.
Dari 10 poin yang diajukan, terlihat bahwa Teheran tidak sekadar ingin menghentikan konflik, tetapi juga berupaya mengubah posisi strategisnya.
Teheran menuntut penghentian total operasi militer Amerika Serikat, disertai jaminan tidak akan ada serangan di masa depan. Selain itu, Teheran juga mengangkat isu kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat konflik.
Poin paling krusial adalah tuntutan pencabutan sanksi ekonomi. Selama bertahun-tahun, sanksi menjadi tekanan utama terhadap Iran. Dengan memasukkan poin ini, Teheran secara jelas menjadikan negosiasi sebagai alat untuk memulihkan perekonomiannya.
Di sektor strategis, Iran juga meminta pengakuan atas haknya dalam pengayaan uranium, serta pembatalan seluruh resolusi Dewan Gubernur IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional). Hal ini menegaskan keinginan Teheran untuk tetap mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai, isu inti yang selama ini menjadi sumber ketegangan dengan Washington.
Tidak berhenti di situ, Iran juga mendorong pengurangan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Bahkan, dalam salah satu poin paling sensitif, Iran berupaya mempertahankan kontrol strategis atas jalur energi vital dunia, termasuk Selat Hormuz.
Proposal Amerika Serikat
Berbanding terbalik dengan Iran, Amerika Serikat tidak langsung menawarkan kesepakatan besar, melainkan memulai dengan gencatan senjata sementara sebagai langkah awal.
Namun, alih-alih membuka jalan dialog, proposal Washington yang terdiri dari 15 poin justru mencerminkan pendekatan maksimalis dalam aspek keamanan, nuklir, dan geopolitik kawasan.
Pemerintahan Donald Trump menuntut Teheran menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium serta menyerahkan seluruh stok uranium yang telah diproduksi. Langkah ini diklaim sebagai upaya memastikan Iran tidak lagi mampu melanjutkan program nuklirnya.
Di sektor militer, Amerika Serikat meminta Iran menghentikan produksi rudal secara total, termasuk membongkar fasilitas produksi senjata.
Terkait Selat Hormuz, Trump menuntut Iran menjamin keterbukaan jalur pelayaran energi global tersebut. Ia bahkan sempat melempar wacana agar pengelolaan tarif atau tol Selat Hormuz dilakukan bersama Teheran.
Pada awalnya, Iran tidak langsung menolak proposal tersebut. Pemerintah Teheran sempat mempertimbangkannya sebagai kerangka umum. Namun, pada akhirnya menolak dengan alasan tuntutan yang diajukan terlalu berlebihan dan tidak realistis.
Ganjalan utama
Perbedaan mendasar antara kedua proposal membuat negosiasi menghadapi ganjalan. Iran menginginkan kesepakatan permanen yang menyentuh akar masalah, sementara Amerika Serikat lebih memilih pendekatan bertahap.
Isu nuklir dan Selat Hormuz diperkirakan menjadi titik perdebatan paling krusial dalam perundingan.
Di sisi lain, serangan Israel ke Lebanon kian memperburuk optimisme terhadap jalannya negosiasi. Sehari setelah gencatan senjata disepakati, yakni Rabu (8/4), Israel kembali melancarkan serangan udara besar-besaran di kawasan Dahiyeh, selatan Beirut, Lebanon.
Serangan tersebut tercatat sebagai gelombang terbesar sejak pecahnya konflik antara Israel dan kelompok pejuang Lebanon, Hizbullah, pada 2 Maret lalu.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, memperingatkan bahwa berlanjutnya serangan Israel ke Lebanon dapat membuat negosiasi gencatan senjata dengan Amerika Serikat menjadi “sia-sia”.
Iran menilai serangan itu sebagai pelanggaran terhadap semangat gencatan senjata antara Washington dan Teheran. Namun, Donald Trump berdalih bahwa penghentian serangan Israel ke Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran, dengan alasan adanya aktivitas Hizbullah.
Perundingan gagal di Islamabad
Upaya menjembatani perbedaan tersebut ditempuh melalui pertemuan di Islamabad, yang diharapkan menjadi titik balik menuju kesepakatan lebih konkret.
Delegasi Amerika Serikat dipimpin oleh Wakil Presiden J.D. Vance, serta melibatkan utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Presiden AS, Jared Kushner.
Sementara itu, delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, didampingi Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan sejumlah pejabat lainnya.
Perundingan yang berlangsung pada Sabtu (11/4) itu menjadi yang terpanjang tahun ini. Iran mencatat durasi pembahasan mencapai sekitar 24 hingga 25 jam.
Namun, hasilnya jauh dari harapan. Vance menyatakan pihaknya telah menyampaikan hal-hal yang dapat dan tidak dapat diakomodasi, tetapi Iran tidak menerima tawaran Washington.
Meski terdapat kesepahaman dalam sejumlah isu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Bagaei, mengungkapkan masih ada perbedaan pandangan pada dua hingga tiga isu krusial. Hal ini membuat perundingan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan.
Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama yang memicu perbedaan tajam, karena Iran bersikeras mempertahankan kehadiran militernya di perairan tersebut, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Tasnim.
Kegagalan ini menunjukkan bahwa meskipun ruang dialog terbuka, jarak kepentingan antara kedua negara masih terlalu lebar untuk dijembatani dalam waktu singkat.
Optimisme berlanjutnya perundingan
Meski pembicaraan di Islamabad berakhir buntu, peluang untuk mencapai gencatan senjata yang lebih langgeng belum sepenuhnya tertutup.
Baqaei menilai bahwa “wajar” jika tidak tercapai kesepakatan dengan Amerika Serikat hanya dalam satu hari perundingan di Islamabad.
Donald Trump juga menyebut pembicaraan berjalan dengan baik, dengan sebagian besar poin telah dibahas. Namun, isu nuklir masih belum menemui titik terang karena Iran dinilai menolak menghentikan ambisi pengembangan nuklirnya.
Terkait Selat Hormuz, Trump menyampaikan bahwa blokade angkatan laut AS akan segera dimulai dalam waktu dekat dengan melibatkan sejumlah negara.
Pakistan menegaskan akan terus memainkan peran dalam memfasilitasi dialog. Islamabad juga berharap kedua pihak melanjutkan upaya menuju perdamaian berkelanjutan dan kemakmuran kawasan, serta menekankan pentingnya komitmen terhadap gencatan senjata.
Sementara itu, pengamat hubungan internasional Andrea Abdul Rahman Azzqy menilai peluang kesepakatan akan terbuka apabila Teheran memperoleh jaminan a
"Jadi, titik tengahnya dicapai, ya, kalau Iran mendapatkan jaminan keamanan dan kedaulatan," katanya.
Menurut Andrea, kegagalan perundingan sejak Sabtu malam (11/4) di Islamabad mencerminkan masih lebarnya jurang kepentingan antara Washington dan Teheran.
Terkait Selat Hormuz, ia menilai Washington seharusnya memberikan jaminan atas keterbukaan jalur perdagangan sesuai hukum internasional.
Solusi yang lebih realistis, menurutnya, adalah mekanisme pengawasan bersama antara Amerika Serikat dan Iran di bawah kerangka internasional, bukan melalui dominasi sepihak.
Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran bukanlah akhir konflik, melainkan awal dari fase negosiasi yang penuh tantangan. Di balik jeda dua pekan tersebut, berlangsung tarik-menarik kepentingan yang akan menentukan masa depan kawasan.
Tekanan internasional, terutama dari negara-negara yang berkepentingan terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi global, akan terus berperan penting dalam mendorong kedua pihak menemukan jalan tengah.
Titik akhir dari perang AS-Iran ini akan ditentukan oleh kesediaan kedua negara untuk mengubah pendekatan demi mencapai perdamaian yang lebih langgeng, sementara dunia menanti kepastian dengan penuh kewaspadaan.
Sumber: ANTARA