Kami siap dalam arti tinggal kami melihat potensi negara mana yang akan kita ekspor tersebut,
Jakarta (KABARIN) - Keberhasilan Indonesia menuju swasembada pangan mulai membuka peluang baru di tingkat global. Tahun ini, Perum Bulog menyatakan kesiapannya untuk melangkah lebih jauh dengan mengekspor beras dan jagung, dua komoditas strategis yang kini produksinya dinilai semakin kuat.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan bahwa secara operasional Bulog telah siap menjalankan ekspor. Saat ini, langkah awal yang dilakukan adalah memetakan peluang serta kebutuhan negara tujuan melalui koordinasi resmi antar pemerintah.
“Kami siap, tinggal melihat potensi negara mana yang akan menjadi tujuan ekspor,” ujar Rizal saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Pernyataan ini sekaligus menanggapi dorongan dari Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), yang meminta agar ekspor beras dan jagung segera direalisasikan setelah Indonesia mencapai swasembada. Dorongan tersebut disampaikan dalam acara Panen Raya Jagung Kuartal I Tahun 2026 yang digelar di Bekasi.
Dukungan serupa juga datang dari Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman. Dalam momentum pengumuman swasembada pangan oleh Presiden RI Prabowo Subianto di Karawang, Amran menekankan pentingnya kesiapan Bulog untuk mengelola ekspor tanpa mengganggu pasokan domestik.
Menindaklanjuti arahan tersebut, Rizal menyebut Bulog terus memperkuat koordinasi dengan Kementerian Perdagangan, sebagai institusi yang memiliki kewenangan komunikasi dan kerja sama dagang antarnegara. Fokus ekspor akan diarahkan ke negara-negara tetangga serta wilayah yang benar-benar membutuhkan pasokan pangan, termasuk negara yang terdampak konflik dan krisis kemanusiaan.
Meski membuka peluang ekspor, Bulog memastikan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama. Sepanjang 2026, Bulog menargetkan pengadaan cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar 4 juta ton.
Pada semester pertama, penyerapan beras ditargetkan minimal 3 juta ton, seiring dengan puncak panen nasional yang biasanya terjadi pada periode tersebut. Rizal optimistis target ini bisa terlampaui, selama tidak ada gangguan cuaca ekstrem maupun kendala produksi lainnya.
Sementara itu, sekitar 1 juta ton sisanya akan diserap pada semester kedua, sehingga keseimbangan antara stok nasional dan rencana ekspor tetap terjaga. Sesuai arahan Menteri Pertanian, alokasi ekspor diperkirakan berada di kisaran 1 juta ton, dengan mayoritas produksi tetap difokuskan untuk konsumsi domestik.
Hingga awal Januari 2026, Bulog tercatat mengelola 3,25 juta ton stok cadangan beras pemerintah, yang merupakan carry over dari stok tahun 2025. Stok ini menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas pangan nasional sekaligus membuka peluang Indonesia tampil sebagai pemain baru dalam ekspor pangan global.
Editor: Suryanto
Copyright © KABARIN 2026