Jakarta (KABARIN) - Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menilai langkah Indonesia untuk naik kelas menjadi negara maju masih menghadapi tantangan serius, salah satunya belum adanya visi nasional yang benar benar konsisten dari waktu ke waktu.
“Nah tapi menuju ke situ, itu enggak mudah. Kalau saya mencatat ya, kalau kita pelajari Singapura, Korea Selatan, kemudian beberapa negara di Asia Timur lain. Yang bisa cepat naik kelas itu kenapa? Satu, adanya visi nasional yang konsisten. Jadi, itu terus dilanjutkan oleh pemimpin berikutnya,” ujar Bima di Jakarta, Rabu.
Pernyataan itu disampaikan Bima saat menjadi pembicara utama dalam Talkshow Kompetisi Ekonomi atau KOMPeK ke 28 yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.
Menurut Bima, posisi Indonesia saat ini bisa dibilang krusial. Dalam 20 tahun ke depan peluang terbuka lebar, tapi masih ada tantangan besar yang harus ditaklukkan, yakni keluar dari jebakan pendapatan menengah atau middle income trap.
Ia menyebut upaya Presiden Prabowo Subianto bersama jajaran menteri, ekonom, hingga pelaku usaha saat ini diarahkan untuk mendorong Indonesia lepas dari status tersebut. Prediksi peluang Indonesia menjadi negara maju juga didukung data dari lembaga internasional seperti World Bank, The Economist, dan Goldman Sachs.
Bima menambahkan, sejarah mencatat hanya sedikit negara yang berhasil naik kelas. Dari ratusan negara, hanya 34 yang sukses menjadi negara maju, sementara 108 negara lainnya mentok di level pendapatan menengah.
“Banyak negara itu enggak lolos, 108 negara enggak lolos, enggak naik tingkat. Dari kelas bawah ke kelas menengah tapi enggak bisa loncat ke atas. Kalau kita gagal memanfaatkan apa yang ada saat ini, maka kita enggak bisa menjadi negara maju,” katanya.
Ia menegaskan, menjadi negara maju bukan cuma soal gengsi, tapi juga soal kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, ada beberapa syarat penting yang harus dipenuhi.
Syarat pertama adalah kemandirian ekonomi. Menurut Bima, tidak ada negara kuat yang bergantung penuh pada pihak lain, sehingga Indonesia harus membangun fondasi ekonominya sendiri. Syarat berikutnya adalah kepemimpinan yang solid dan efektif di semua level pemerintahan.
Selain itu, kolaborasi dan inovasi juga dinilai krusial. Namun Bima menekankan bahwa saat ini Indonesia perlu melangkah lebih jauh dari sekadar kolaborasi.
“Bahkan sekarang ada hal yang jauh lebih penting dari kolaborasi yaitu co-creation. Kalau kolaborasi itu ya pemerintah mengundang aja komunitas atau swasta. Tapi kalau co-creation mendesain sama-sama, merancang sama-sama,” ujarnya.
Bima juga menjelaskan ciri negara maju, antara lain tidak ada warga yang tertinggal, partisipasi publik yang kuat, serta pembangunan berkelanjutan dengan pandangan jangka panjang. Ia menegaskan tidak ada jalan instan untuk sampai ke titik tersebut.
“Jalannya panjang berliku. Tapi kalau kita serius, insyaallah bisa,” katanya.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026