Jakarta (KABARIN) - Remaja kerap ikut arus tren bukan semata karena ingin coba-coba, tapi juga karena dorongan kuat untuk diterima di lingkaran pertemanan.
Psikolog dari Cakra Medika Ayu S Sadewo S Psi menjelaskan rasa takut tertinggal atau fear of missing out FOMO membuat banyak remaja menomorsatukan pengakuan sosial dibanding memikirkan risiko.
“Yang penting bagi mereka adalah diterima. Risiko sering kali tidak menjadi pertimbangan utama. Ketika ada tren yang dianggap populer, muncul rasa kalau tidak ikut berarti ketinggalan atau tidak nyambung,” ujar Ayu.
Menurut dia, rasa penasaran juga punya peran besar. Di fase remaja, keinginan mencoba hal baru kerap dianggap sebagai bagian dari proses mengenal diri dan menentukan jati diri.
“Masa remaja saat seseorang ada dalam fase mencari identitas. Di usia ini, penerimaan orang lain jadi faktor yang penting bagi mereka – dianggap keren, dianggap seru, dianggap ‘sama’,” lanjut psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.
Kondisi tersebut terlihat dari maraknya perbincangan soal tren gas tertawa atau whip pink di media sosial. Gas tertawa merupakan nitrous oxide yang sejatinya dipakai di dunia medis sebagai anestesi, namun belakangan disalahgunakan karena efek euforia singkat yang ditimbulkan. Whip pink sendiri dikenal sebagai salah satu merek tabung nitrous oxide yang sering disebut dalam tren ini.
Isu ini makin ramai setelah warganet mengaitkan meninggalnya pemengaruh dan kreator konten Lula Lahfah dengan penggunaan gas tersebut. Meski begitu, pihak berwenang hingga kini belum memastikan penyebab kematian secara resmi.
Ayu menilai, banyak remaja mengikuti tren tanpa pemahaman utuh soal dampaknya. Fokus mereka lebih tertuju pada validasi sosial dan perasaan diakui setara dengan teman-temannya, seolah sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan sendiri.
Fenomena whip pink pun menjadi alarm bahwa tren viral bisa memberi pengaruh besar pada perilaku remaja. Karena itu, pemahaman risiko dan pendampingan yang tepat dinilai penting sebelum tren populer berubah menjadi masalah serius.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026