Testosteron Rendah dan Konsumsi Gula Tinggi Bisa Picu Penyakit Hati

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Sebuah studi terbaru menemukan bahwa kombinasi kadar testosteron rendah pada pria dan kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi gula dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan serius, terutama penyakit hati.

Laporan yang dikutip dari SciTechDaily pada Minggu (15/3) menyebutkan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan munculnya penyakit hati kronis akibat disfungsi metabolik atau Metabolic Dysfunction-Associated Steatotic Liver Disease (MASLD). Penyakit ini diketahui memengaruhi sekitar 40 persen pria dewasa di dunia.

Penelitian tersebut menemukan bahwa perlemakan hati, yang merupakan tahap awal MASLD, memiliki hubungan erat dengan dua faktor utama: penurunan kadar testosteron dan konsumsi fruktosa tinggi yang banyak ditemukan dalam minuman manis serta makanan olahan.

Studi ini dilakukan oleh Hiroki Takahashi, mahasiswa pascasarjana di Departemen Pertanian Osaka Metropolitan University, Jepang, bersama Profesor Madya Naoki Harada.

Dalam penelitian tersebut, tim peneliti ingin memahami bagaimana kombinasi rendahnya testosteron dan tingginya asupan fruktosa dapat memengaruhi kesehatan hati.

Untuk mengujinya, para peneliti melakukan percobaan pada tikus jantan berusia delapan minggu. Sebagian tikus menjalani prosedur kastrasi untuk menurunkan kadar testosteron, sementara sebagian lainnya menjalani prosedur kontrol (sham).

Setelah itu, tikus-tikus tersebut dibagi menjadi enam kelompok dengan perlakuan berbeda. Ada kelompok kontrol, kelompok yang diberi konsumsi fruktosa, hingga kelompok yang menerima kombinasi fruktosa dan antibiotik. Kelompok lain terdiri dari tikus yang telah dikebiri dengan variasi perlakuan serupa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus yang dikebiri dan mengonsumsi fruktosa mengalami peningkatan berat organ hati, yang menandakan adanya penumpukan lemak. Namun, peningkatan tersebut berkurang ketika antibiotik diberikan.

Secara terpisah, baik kadar testosteron rendah maupun konsumsi fruktosa tinggi hanya menyebabkan perubahan kecil pada kadar trigliserida di hati. Tetapi ketika kedua faktor tersebut terjadi secara bersamaan, dampaknya menjadi jauh lebih besar.

Kombinasi tersebut ternyata mempercepat penumpukan lemak di hati dan memperburuk kondisi penyakit hati berlemak.

Selain itu, tikus yang mengalami kastrasi dan mengonsumsi fruktosa juga menunjukkan perubahan komposisi mikrobiota usus, perubahan ekspresi gen di hati, serta peningkatan kadar piruvat—produk sampingan dari metabolisme glukosa.

"Setelah meneliti mekanisme ini, kami menemukan bahwa perubahan pada mikrobiota usus menyebabkan peningkatan kadar piruvat di dalam usus," kata Takahashi.

Ia menambahkan bahwa piruvat bekerja secara sinergis dengan fruktosa, yaitu jenis gula yang banyak ditemukan dalam makanan dan minuman manis. Kombinasi keduanya mendorong akumulasi lipid atau lemak netral di hati.

Temuan ini memperkuat dugaan bahwa gaya hidup, terutama pola makan tinggi gula, bisa memperburuk kondisi kesehatan ketika dikombinasikan dengan faktor hormonal seperti penurunan testosteron.

Sumber: Scitechdaily

Bagikan

Mungkin Kamu Suka