Istanbul/Washington DC (KABARIN) - Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dalam waktu 10 hari ke depan akan terlihat apakah kesepakatan dengan Iran bisa tercapai atau tidak. Ia juga menekankan kemungkinan Washington akan meningkatkan tekanan jika negosiasi gagal.
"Kita mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak," ujar Trump saat pertemuan perdana Dewan Perdamaian di Washington.
Trump menyebut utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, sudah menjalin komunikasi yang baik dengan perwakilan Iran dan pembicaraan berjalan positif.
"Iran adalah wilayah yang rawan saat ini, dan mereka sedang bertemu, dan mereka memiliki hubungan yang baik dengan perwakilan Iran. Pembicaraan yang baik sedang berlangsung," tambahnya.
Syarat utama Trump jelas, Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
"Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir. Sangat sederhana. Anda tidak dapat memiliki perdamaian di Timur Tengah jika mereka memiliki senjata nuklir," tegasnya.
Wakil Presiden AS JD Vance menilai pertemuan di Jenewa pada Selasa produktif di beberapa hal, tapi Iran masih belum siap membahas syarat utama dari Trump. Sementara Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut suasana pembicaraan lebih konstruktif.
Trump juga mengakui bahwa membuat kesepakatan yang bermakna dengan Iran selalu sulit.
"Terbukti, selama bertahun-tahun, tidak mudah untuk membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran. Kita harus membuat kesepakatan yang berarti. Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," katanya.
Ia mendorong Tehran untuk memanfaatkan momentum ini.
"Sekaranglah saatnya bagi Iran untuk bergabung dengan kita di jalan yang akan menyelesaikan apa yang sedang kita lakukan. Jika mereka bergabung dengan kita, itu akan bagus. Jika mereka tidak bergabung dengan kita, itu juga akan bagus, tetapi itu akan menjadi jalan yang sangat berbeda," ujar Trump.
Presiden AS menekankan Iran tidak bisa terus mengancam stabilitas kawasan dan harus mencapai kesepakatan. Ia juga memuji serangan AS Juni lalu terhadap fasilitas nuklir Iran yang menurutnya "benar-benar menghancurkan" potensi nuklir negara tersebut dan menciptakan momen relatif tenang di Timur Tengah.
Saat ini, AS telah mengerahkan kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln ke wilayah itu, sementara USS Gerald R. Ford sedang dalam perjalanan bersama jet tempur tambahan.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026