News

Kim Jong Un Buka Peluang Damai dengan AS, tapi Tetap Siaga Konfrontasi

Tokyo (KABARIN) - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kembali menyampaikan sinyal terbuka terkait hubungan negaranya dengan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Pyongyang siap memperbaiki hubungan bilateral, asalkan Washington menghentikan sikap permusuhan terhadap Korea Utara.

Pernyataan tersebut disampaikan Kim dalam kongres Partai Pekerja Korea (WPK), agenda politik besar yang digelar setiap lima tahun sekali. Acara itu resmi ditutup dengan parade militer malam hari pada Rabu.

Kim hadir dalam acara tersebut bersama putrinya yang diyakini bernama Kim Ju Ae, yang kini disebut telah memasuki usia remaja, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA).

Dalam laporan evaluasi kebijakan lima tahunan Korea Utara, Kim menegaskan kesiapan negaranya menghadapi segala kemungkinan hubungan dengan AS.

"kita sepenuhnya siap menghadapi konfrontasi dengan AS di masa depan".

Menurut Kim, hingga kini Washington "masih belum mengubah pandangan permusuhan aslinya" terhadap Pyongyang. Ia menilai hubungan kedua negara sebenarnya bisa membaik apabila sikap tersebut berubah.

"tidak ada lagi alasan kita tidak berhubungan dengan baik".

Namun, ia menekankan bahwa masa depan hubungan bilateral sepenuhnya bergantung pada keputusan Amerika Serikat.

"Koeksistensi damai ataupun konfrontasi abadi, kita siap menghadapi segalanya, dan pilihan tersebut tidak ditentukan oleh kita," kata Kim, sebagaimana dikutip KCNA.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya beberapa kali menyatakan kesiapan untuk kembali membuka dialog dengan Kim sejak kembali menjabat pada Januari tahun lalu. Keduanya diketahui pernah bertemu tiga kali pada periode 2018–2019, meski pembicaraan terkait program nuklir Korea Utara akhirnya tidak berlanjut.

Meski membuka peluang diplomasi, Kim tetap menegaskan komitmen negaranya memperkuat kemampuan militer.

"tekad teguh partai kita untuk semakin memperluas dan meningkatkan kekuatan nuklir nasional", yang ia sebut sebagai bagian penting strategi deterensi nasional.

Terkait hubungan dengan Korea Selatan, Kim mengambil sikap jauh lebih keras. Ia menegaskan Pyongyang tidak lagi menganggap Seoul sebagai saudara sebangsa dan tetap memandangnya sebagai "negara yang sangat bermusuhan dan musuh abadi".

Kim juga menolak pendekatan rekonsiliasi Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung yang disebutnya sebagai "lelucon yang kikuk dan menipu serta langkah yang buruk".

Sejak menjabat pada Juni tahun lalu, Lee memang berupaya meredakan ketegangan dengan Korea Utara dan meninggalkan pendekatan konfrontatif yang sebelumnya diambil mantan presiden Yoon Suk Yeol.

Kim bahkan memperingatkan bahwa Korea Utara dapat memberikan respons keras jika merasa keamanan negaranya terganggu, termasuk tidak menutup kemungkinan "kehancuran total" Korea Selatan.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyampaikan keprihatinan mendalam atas sikap Pyongyang yang terus menganggap Seoul sebagai musuh, sembari menegaskan komitmen untuk tetap mendorong koeksistensi damai di Semenanjung Korea.

Menariknya, laporan Kim kali ini tidak menyinggung kebijakan Korea Utara terhadap Jepang.

Berdasarkan foto dan laporan KCNA, parade militer yang digelar di Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, juga tidak menampilkan persenjataan besar seperti rudal balistik antarbenua. Namun, personel militer Korea Utara yang dilaporkan membantu Rusia dalam perang melawan Ukraina disebut ikut ambil bagian dalam parade tersebut.

Penerjemah: Nabil Ihsan
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: