Jakarta (KABARIN) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan bahwa alokasi dana riset sebesar Rp1,7 triliun yang baru-baru ini diumumkan bukan merupakan total keseluruhan anggaran riset nasional untuk perguruan tinggi pada 2026.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, menjelaskan bahwa angka Rp1,7 triliun tersebut hanya mencakup sembilan program pendanaan dari APBN yang telah dibuka skemanya.
“Jadi kalau kita gabungkan dana abadi penelitian dan perguruan tinggi dengan tadi dana riset kita dari APBN plus lagi dana di BRIN itu totalnya sekitar Rp8 triliun,” kata Fauzan dalam kegiatan Penandatanganan Kontrak Program Pendanaan Riset di Jakarta, Senin.
Ia menegaskan bahwa total anggaran riset nasional yang dapat diakses perguruan tinggi jauh lebih besar, yakni sekitar Rp8 triliun, yang berasal dari berbagai sumber seperti APBN Kemdiktisaintek, dana abadi LPDP, serta program riset di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Fauzan juga memastikan bahwa tidak terjadi penurunan anggaran riset pada tahun ini. Sejumlah program lain, termasuk hilirisasi riset prioritas, masih dalam proses dan akan diumumkan secara bertahap.
Menurutnya, tahap awal pendanaan difokuskan pada pemerataan akses agar lebih banyak kampus dan peneliti muda dapat terlibat dalam ekosistem riset nasional.
Tingginya minat terlihat dari 104.000 proposal yang masuk, namun hanya 18.215 proposal yang berhasil didanai, dengan tingkat keberhasilan sekitar 17,4 persen. Untuk kategori penelitian murni, tingkat kelolosan bahkan turun menjadi sekitar 13 persen.
“Sekarang hampir sepuluh orang baru satu dapat dana,” ujar Fauzan menggambarkan ketatnya kompetisi.
Meski demikian, Kemdiktisaintek menilai tingginya partisipasi tersebut sebagai indikator positif bagi perkembangan riset di Indonesia, dan berkomitmen terus mengoptimalkan pendanaan serta membuka ruang komunikasi dengan para peneliti.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026