Money

IHSG Berpotensi Tertekan oleh Sentimen MSCI dan Pelemahan Rupiah

Keputusan ini memperbesar risiko foreign outflow lanjutan dari pasar saham domestik dan semakin menekan sentimen IHSG di tengah pelemahan rupiah

Jakarta (KABARIN) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Rabu pagi dibuka melemah 94,96 poin atau sekitar 1,38 persen ke level 6.763,94, di tengah tekanan sentimen global dan domestik.

Dalam analisisnya di Jakarta, Rabu, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menyebut pelemahan IHSG dipicu kombinasi keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI), pelemahan rupiah, serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Sebagaimana diketahui, MSCI resmi mengumumkan hasil rebalancing Mei 2026.

MSCI mendepak enam saham Indonesia keluar dari indeks MSCI Global Standard Index yakni yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Sementara pada MSCI Small Cap Index, MSCI memasukkan saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) ke dalam indeks small cap.

Selain itu, sebanyak 13 saham RI lainnya juga keluar dari MSCI Small Cap Index, sehingga total terdapat 18 saham Indonesia yang keluar dari seluruh kategori indeks MSCI.

Menurut Liza, keputusan MSCI meningkatkan risiko arus keluar dana asing (foreign outflow) yang berlanjut dari pasar saham domestik serta menekan sentimen terhadap IHSG di tengah pelemahan rupiah yang sudah menembus level Rp17.500 per dolar AS.

"Keputusan ini memperbesar risiko foreign outflow lanjutan dari pasar saham domestik dan semakin menekan sentimen IHSG di tengah pelemahan rupiah yang telah menembus level psikologis Rp17.500 per dolar AS," kata Liza.

Ia menambahkan, pelemahan rupiah hingga Rp17.515 per dolar AS turut memperkuat tekanan terhadap pasar modal domestik.

Dari sisi global, penguatan dolar AS juga menjadi faktor tekanan setelah inflasi Amerika Serikat tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Data Consumer Price Index (CPI) AS April naik 0,6 persen secara bulanan dan 3,8 persen secara tahunan, di atas ekspektasi 3,7 persen. Sementara Core CPI naik 0,4 persen secara bulanan dan 2,8 persen secara tahunan, juga melampaui proyeksi.

Kondisi tersebut memicu ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS (The Fed) berpotensi kembali menaikkan suku bunga acuannya.

Pelaku pasar juga mencermati dinamika transisi kepemimpinan The Fed setelah Senat AS mengonfirmasi Kevin Warsh sebagai anggota Board of Governors melalui voting 51-45, dengan penolakan sebagian anggota karena kekhawatiran independensi bank sentral.

Selain itu, pasar turut menantikan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang diperkirakan membahas isu perdagangan, Iran, dan ketegangan geopolitik global.

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: