Jakarta (KABARIN) - NBA membuka tahun 2026 dengan serangkaian isu strategis yang langsung menyentuh keseimbangan kompetisi liga. Setelah musim 2025 diwarnai kejutan besar—mulai dari pertukaran Luka Dončić hingga gelar bersejarah Oklahoma City Thunder—fokus liga kini bergeser dari hasil pertandingan semata menuju keputusan individual pemain, stabilitas organisasi, serta dampak regulasi baru terhadap performa tim.
Sorotan utama tertuju pada LeBron James dan Los Angeles Lakers. Di usia 41 tahun, James masih tampil produktif dengan rata-rata sekitar 20 poin per pertandingan dan efisiensi tembakan mendekati 50 persen. Namun, persoalan Lakers tak lagi terletak pada kemampuan individu, melainkan struktur finansial tim.
Kombinasi kontrak LeBron dan Luka Dončić menyerap sekitar 64 persen batas gaji NBA, membuat fleksibilitas roster Lakers sangat terbatas. Manajemen diyakini akan memprioritaskan Dončić yang baru berusia 26 tahun, sementara masa depan James dibiarkan terbuka.
Di internal liga, tiga skenario LeBron paling sering dibicarakan: bertahan dengan pemotongan gaji signifikan, hengkang sebagai free agent, atau pensiun. Apa pun pilihannya, keputusan tersebut akan menentukan arah Lakers—baik dari sisi finansial maupun perencanaan jangka menengah.
Situasi berbeda namun tak kalah sensitif terjadi di Milwaukee Bucks. Giannis Antetokounmpo kembali berada di pusat perhatian setelah Bucks menutup 2025 di luar zona playoff Wilayah Timur.
Keputusan melepas Damian Lillard dan mendatangkan Myles Turner belum menghasilkan stabilitas permainan. Meski Giannis menegaskan fokusnya pada musim berjalan dan enggan membahas masa depan, stagnasi tim terus memicu spekulasi.
Manajemen Bucks masih melihat peluang playoff terbuka dan memanfaatkan sisa musim reguler serta tenggat pertukaran untuk memperbaiki roster. Namun selama performa tim belum menunjukkan konsistensi, masa depan Giannis akan tetap menjadi variabel kunci di peta kekuatan Wilayah Timur.
Kebangkitan Spurs
Dari Wilayah Barat, San Antonio Spurs muncul sebagai salah satu perkembangan paling signifikan. Dipimpin Victor Wembanyama yang baru berusia 21 tahun, Spurs menempati papan atas klasemen dan bahkan mencatat kemenangan penting atas juara bertahan Oklahoma City Thunder.
Peran Wembanyama melampaui statistik. Ia menjadi fondasi identitas permainan Spurs, didukung lonjakan performa Stephon Castle, kontribusi awal Dylan Harper, serta keseimbangan peran De’Aaron Fox dan Keldon Johnson.
Tantangan berikutnya bagi San Antonio adalah mempertahankan performa ini di fase playoff, saat pengalaman dan eksekusi situasional menjadi faktor penentu.
Dallas dan Proyek Cooper Flagg
Di Dallas, perhatian sepenuhnya tertuju pada Cooper Flagg. Rookie berusia 19 tahun ini tampil konsisten dan menjadi fondasi jangka panjang Mavericks setelah perubahan struktur manajemen.
Dengan posisi general manager masih interim, kebijakan klub diarahkan pada pengembangan Flagg. Situasi ini berimplikasi pada masa depan pemain bergaji besar seperti Anthony Davis, yang kontraknya berpotensi membatasi fleksibilitas finansial Dallas dalam beberapa musim ke depan.
Regulasi 65 Pertandingan
Aturan minimum 65 pertandingan untuk kelayakan penghargaan individu mulai menimbulkan efek nyata. LeBron James terancam tidak memenuhi syarat All-NBA akibat absensi awal musim, sementara Nikola Jokic, Giannis Antetokounmpo, dan Victor Wembanyama juga berada dekat batas maksimal absensi.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi legitimasi perebutan penghargaan seperti MVP, terutama jika pemain dominan gagal memenuhi syarat administratif.
Thunder Masih Jadi Tolok Ukur
Sebagai juara bertahan, Oklahoma City Thunder tetap menjadi standar kompetitif liga. Dengan laju kemenangan mendekati 70 dan net rating historis, mereka berada di posisi kuat untuk mempertahankan gelar.
Namun, kekalahan beruntun dari Spurs menjadi pengingat bahwa dominasi musim reguler tidak selalu menjamin kontrol penuh di Wilayah Barat, terlebih dengan tekanan ekspektasi sebagai juara bertahan.
Ekspansi NBA di Depan Mata
Di luar lapangan, NBA bersiap menghadapi keputusan besar terkait ekspansi liga. Komisioner Adam Silver mengonfirmasi pembahasan akan mengerucut pada 2026, dengan Las Vegas dan Seattle sebagai kandidat utama.
Ekspansi akan membawa implikasi luas—dari redistribusi pemain, penyesuaian salary cap, hingga kemungkinan realignment konferensi.
Kesimpulan
NBA 2026 memasuki fase di mana arah liga semakin ditentukan oleh keputusan struktural, bukan sekadar performa harian. Manajemen aset, keberlanjutan kompetitif, dan respons terhadap regulasi baru kini menjadi faktor utama yang membentuk peta kekuatan liga.
Sumber: ANTARA