Libur Nataru 2025/2026, Ekonomi Kreatif Sumbang Rp24,46 Triliun ke PDB Nasional

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 kembali membuktikan bahwa ekonomi kreatif bukan sekadar pelengkap, melainkan salah satu penggerak utama roda perekonomian nasional. Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat, sektor ini menyumbang Rp24,46 triliun terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) selama periode Nataru, hampir setengah dari total tambahan PDB nasional yang mencapai Rp48,56 triliun.

Angka tersebut memperlihatkan betapa kuatnya daya tarik produk dan pengalaman kreatif di tengah masyarakat, terutama saat libur panjang ketika konsumsi meningkat signifikan.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa kontribusi ini bukanlah fenomena musiman semata. Menurutnya, lonjakan ekonomi kreatif selama Nataru mencerminkan potensi strategis yang bisa dikelola secara berkelanjutan jika dirancang dengan pendekatan jangka panjang.

“Data ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif bukan hanya ikut terdorong oleh momentum libur panjang, tetapi mampu menjadi tulang punggung perputaran ekonomi jika dirancang sebagai strategi tahunan yang terintegrasi,” ujarnya dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu.

Kajian Kementerian Ekraf juga mengungkap adanya pergeseran perilaku konsumen. Masyarakat kini semakin mengutamakan produk kreatif seperti kuliner lokal, fesyen, kriya, hingga pengalaman hiburan dan seni sebagai bagian dari gaya hidup saat liburan. Tren ini sekaligus membuka peluang besar bagi jenama-jenama lokal untuk memperluas pasar, tidak hanya di kota besar, tetapi juga di daerah tujuan wisata.

Jejak digital konsumen melalui Google Trends memperkuat temuan tersebut. Minat terhadap kuliner melonjak tajam pada 28 Desember 2025, sementara pencarian hotel mencapai puncaknya pada 31 Desember 2025, bertepatan dengan malam pergantian tahun. Adapun pada 25–26 Desember, hiburan keluarga seperti bioskop menjadi primadona. Pola konsumsi ini menunjukkan bahwa belanja ekonomi kreatif berjalan seiring dengan ritme liburan dan bisa dimanfaatkan untuk strategi promosi yang lebih tepat sasaran.

Dari sisi pelaku usaha, dampaknya terasa nyata. Survei kinerja usaha mencatat 76,93 persen pelaku mengalami peningkatan penjualan, sementara 73,08 persen melaporkan kenaikan keuntungan selama periode Nataru. Mayoritas pelaku berasal dari skala mikro, dengan subsektor kuliner, fesyen, dan kriya menjadi penyumbang lonjakan transaksi terbesar.

Sementara itu, meski belanja wisatawan masih didominasi transportasi dan akomodasi, pengeluaran untuk produk kreatif—mulai dari makanan, cinderamata, hingga belanja ritel—mencapai rata-rata Rp858 ribu per orang. Angka ini menegaskan posisi produk ekonomi kreatif sebagai bagian penting dalam pengalaman liburan masyarakat.

Secara kontribusi langsung terhadap PDB ekraf, subsektor kuliner masih menjadi primadona dengan nilai Rp19,9 triliun, disusul fesyen Rp3,9 triliun dan kriya Rp0,24 triliun. Data ini sekaligus menegaskan perlunya penguatan rantai pasok, kapasitas produksi, serta akses pembiayaan agar pelaku usaha mampu merespons lonjakan permintaan secara optimal.

“Jika momentum seperti Nataru dikelola secara sistematis melalui Pasar Ekraf dan integrasi ekosistem, maka dampaknya tidak hanya mendorong PDB, tetapi juga memperkuat daya saing jenama lokal secara berkelanjutan,” tutup Menteri Ekraf Teuku Riefky.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka