Doomscrolling Bisa Meningkatkan Kecemasan dan Ganggu Kualitas Tidur

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Kebiasaan menggulir berita atau unggahan bernada negatif di media sosial secara terus-menerus atau dikenal sebagai doomscrolling dapat berdampak pada kesehatan mental, mulai dari meningkatkan kecemasan hingga mengganggu kualitas tidur.

Melansir dari laman kesehatan Medical Daily pada Jumat, doomscrolling merupakan kebiasaan mengonsumsi informasi yang memicu rasa takut atau cemas secara berulang, sering kali lebih lama dari yang direncanakan.

Perilaku ini semakin banyak terjadi sejak pandemi COVID-19 ketika masyarakat mengandalkan internet untuk memperoleh informasi terbaru.

Peneliti menjelaskan bahwa otak manusia secara alami lebih peka terhadap ancaman sehingga cenderung memberi perhatian lebih besar pada informasi negatif. Di era digital, kecenderungan tersebut dapat membuat seseorang terus memeriksa berita yang mengkhawatirkan meski justru meningkatkan stres.

Sebuah studi pada 2022 juga menemukan bahwa paparan berita terkait COVID-19 yang lebih tinggi berkaitan dengan meningkatnya tekanan psikologis. Sementara itu, American Psychological Association menyebut paparan berkepanjangan terhadap berita yang memicu stres dapat meningkatkan kecemasan dan kelelahan emosional.

Kebiasaan doomscrolling juga sering dilakukan menjelang tidur. Selain paparan cahaya dari layar, konten yang menguras emosi membuat otak tetap waspada sehingga seseorang lebih sulit tertidur.

Menurut Sleep Health Foundation, penggunaan perangkat digital sebelum tidur dapat menunda relaksasi dan menurunkan kualitas tidur.

Peneliti juga menilai fitur media sosial seperti notifikasi, rekomendasi konten, dan gulir tanpa batas dapat mendorong pengguna terus mencari informasi baru. Kebiasaan berpindah-pindah antara berita, video, dan notifikasi pun diduga memengaruhi kemampuan seseorang untuk mempertahankan fokus dalam jangka waktu lama.

Untuk mengurangi dampaknya, para ahli menyarankan masyarakat membatasi waktu membaca berita, menghindari konten yang memicu stres sebelum tidur, mematikan notifikasi yang tidak diperlukan, serta meluangkan waktu untuk berolahraga atau bersosialisasi sebagai pengganti waktu menatap layar.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka