Child Grooming Pada Anak dan Tanda-tanda Anak Mengalaminya

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Kasus child grooming lagi ramai dibahas belakangan ini karena viral di media sosial dan bikin banyak orang tua was-was.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, tapi sering luput dari perhatian karena pelakunya pintar menyembunyikan niat jahatnya dengan bersikap ramah, perhatian berlebihan, atau pura-pura jadi sosok yang dipercaya anak.

Child grooming adalah cara manipulasi yang dilakukan secara bertahap untuk dekat secara emosional dengan anak, dengan tujuan mengeksploitasi mereka di kemudian hari.

Di era digital sekarang, memahami child grooming dan tanda-tandanya penting banget supaya anak-anak bisa terlindungi dari potensi bahaya.

Pengertian child grooming

Child grooming adalah bentuk manipulasi orang dewasa terhadap anak lewat pendekatan emosional dan psikologis. Pelaku berusaha mengendalikan cara berpikir anak demi kepentingannya sendiri, biasanya untuk eksploitasi seksual.

Dampaknya bukan cuma fisik, tapi juga bisa bikin anak trauma dan berdampak pada kesehatan mental mereka. Secara sederhana, child grooming terjadi saat orang dewasa menjalin kedekatan dengan anak yang bukan bagian dari keluarganya, tapi dengan tujuan memanfaatkan kepercayaan itu untuk pelecehan seksual.

Perilaku ini bisa terjadi langsung dalam kehidupan sehari-hari atau lewat dunia digital seperti media sosial dan platform komunikasi online.

Pelakunya bisa siapa saja, tidak selalu orang asing. Bisa guru, pelatih olahraga, atau figur yang dianggap aman oleh anak. Selain motif seksual, pelaku sering bermain dengan emosi anak dan memberi tekanan psikologis supaya korban merasa terikat dan nggak berdaya.

Proses membangun kepercayaan ini bisa lama, sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sambil menjalin hubungan baik dengan anak dan keluarganya.

Tanda-tanda anak mungkin mengalami child grooming

Beberapa tanda yang harus diwaspadai antara lain anak terlihat dekat dengan orang dewasa yang usianya jauh berbeda dan mulai tergantung secara emosional.

Anak perlahan menjauh dari teman sebaya dan nggak lagi mau menghabiskan waktu dengan mereka.

Anak sering dapat hadiah atau pemberian dari orang dewasa yang dekat dengannya, tapi tanpa alasan jelas dan cenderung berlebihan.

Anak jadi lebih tertutup dan jarang cerita tentang aktivitas, perasaan, atau pengalaman sehari-hari kepada orang tua atau orang terdekat.

Anak sering menyebut orang dewasa tersebut seolah jadi sosok penting dalam hidupnya.

Waktu anak lebih banyak dihabiskan bersama orang dewasa itu hingga mulai mengabaikan tanggung jawab, seperti jarang masuk sekolah atau menurun perhatian terhadap belajar.

Perubahan ini kadang dianggap wajar sebagai bagian tumbuh kembang, tapi kalau muncul bersamaan dan terus-menerus, itu bisa jadi sinyal serius yang perlu perhatian orang tua dan lingkungan sekitar.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka