SPUN Kembangkan Infrastruktur Visa AI di Asia Tenggara untuk Permudah Perjalanan

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Startup perjalanan berbasis AI SPUN baru saja menutup pendanaan awal senilai 1,8 juta dolar AS atau sekitar Rp30,4 miliar untuk memperluas sistem pengurusan visa berbasis teknologi cerdas di Asia Tenggara.

"Visa sering dianggap sekadar urusan administratif, padahal justru menjadi sumber kecemasan terbesar dalam perjalanan internasional,” ujar CEO dan Co-Founder SPUN, Christa Sabathaly, Senin.

Christa menjelaskan SPUN memulai layanan dari pengurusan visa masuk (inbound) dan keluar (outbound) sebagai dasar mobilitas lintas negara. Alih-alih proses manual seperti agen visa tradisional, SPUN menggunakan AI untuk membantu individu dan perusahaan menghadapi aturan visa yang kerap berubah di tiap negara.

"Baik pemohon individu maupun perusahaan yang mengurus visa dalam jumlah besar menghadapi masalah yang sama. Dengan satu sistem yang bisa digunakan oleh keduanya, kami ingin membuat proses pengurusan visa lebih pasti dan mudah dikembangkan ke berbagai negara," kata Christa.

Dalam kurang dari satu tahun, SPUN sudah membantu lebih dari 200 perusahaan dan ribuan individu memproses visa dengan lebih mudah dan andal.

Pertumbuhan layanan

Selama 12 bulan pertama, sistem mereka menangani ribuan pengajuan dengan tingkat persetujuan mencapai 99 persen, dan layanan ini tersedia untuk pelanggan berbayar dari segmen individu maupun B2B.

Fokus SPUN pada layanan visa memungkinkan mereka memperluas jangkauan ke banyak negara tanpa harus membangun proses baru di tiap pasar. Saat ini, platform SPUN mendukung lebih dari 300 jenis visa di lebih dari 90 negara, termasuk bekerja sama dengan 200+ agen perjalanan dan reseller.

Mereka juga sudah terintegrasi dengan platform perjalanan besar di Asia Tenggara seperti Klook, Traveloka, Tiket.com, dan Nusatrip.

Ekspansi regional

Pendanaan awal yang dipimpin Genesia Ventures dan didukung oleh Antler, Spiral Ventures, Iterative, Kopital Ventures, serta angel investor Kum Hong Siew, digunakan untuk memperkuat infrastruktur AI, memperluas ke pasar utama Asia Tenggara, dan meningkatkan kolaborasi dengan mitra perjalanan dan B2B.

"Kebanyakan orang masih memandang visa sebagai bisnis layanan manual. Kami melihatnya sebagai masalah infrastruktur,” ujar General Partner Genesia Ventures Takahiro Suzuki.

"Digitalisasi proses visa sudah dimulai, namun belum sepenuhnya mempermudah pengguna. SPUN membangun sistem dan alur kerja yang menstandarkan proses visa di Asia Tenggara. Kombinasi visi jangka panjang dan traksi awal inilah yang membuat kami yakin memimpin putaran ini," tambahnya.

Sementara itu, Agung Hadinegoro, Partner Antler Indonesia, menyoroti ambisi global SPUN sejak awal.

"Tim menunjukkan visi global dengan pendekatan eksekusi yang sangat praktis. Mereka membuktikan bahwa hambatan visa bukan hanya persoalan Indonesia, terlihat dari tingginya permintaan dan retensi pengguna di berbagai pasar,” ujarnya.

Data Henley Passport Index menunjukkan pemegang paspor Indonesia masih memerlukan visa untuk 106 dari 195 negara, sementara lebih dari 20 juta penumpang menggunakan sekitar 100.000 penerbangan internasional tiap tahun menghubungkan Indonesia ke seluruh dunia.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka