Film "Esok Tanpa Ibu" Angkat Hubungan Rumit Antara AI, Ibu dan Lingkungan

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) -

Penulis naskah film “Esok Tanpa Ibu” Gina S. Noer menjelaskan bahwa film ini mengeksplorasi hubungan rumit antara kecerdasan buatan, sosok ibu, dan lingkungan sekitar.

"Ketika kita bicara soal ibu, AI (artificial intellegence), dan lingkungan, ada benang merah antara ibu sebagai manusia, ibu pertiwi, dan ibu bumi," ungkap Gina dalam konferensi pers film “Esok Tanpa Ibu” di Jakarta, Senin.

Cerita berfokus pada remaja berusia 16 tahun yang hidupnya berubah drastis setelah ibunya mengalami koma. Untuk menghadapi kesedihan, dia memanfaatkan AI ciptaan temannya yang bisa meniru suara, wajah, dan kepribadian sang ibu.

Kehadiran teknologi ini kemudian memunculkan dilema moral seputar peran ibu dan memengaruhi hubungan antara ayah dan anak.

Gina menekankan bahwa cara manusia memperlakukan alam memiliki kaitan erat dengan cara manusia memperlakukan sesama, terutama perempuan. Ia melihat penghormatan terhadap bumi dan perempuan saling terkait.

"Semakin kita menghargai ibu bumi, maka kita akan semakin menghargai perempuan. Sejarah menunjukkan, ketika perempuan dihargai, dunia bisa menjadi lebih baik," ucap dia.

Ia juga menyoroti kecepatan perkembangan teknologi, termasuk AI, yang membuka banyak kemungkinan baru. Meski begitu, teknologi tetap harus dijalankan dengan landasan nilai kemanusiaan dan kesadaran akan hubungan manusia dengan alam.

"Kita boleh percaya pada kecepatan teknologi, tetapi kita juga harus ingat bahwa akar kemanusiaan kita berasal dari ibu bumi,” ujar Gina.

Salah satu adegan simbolik dalam film menampilkan kuncup bunga yang tumbuh di tanah gersang, sebagai representasi harapan di tengah kesedihan dan kesulitan.

“Maknanya sederhana. Kehidupan selalu mencari jalan. Di tengah kekeringan dan kehilangan, harapan tetap bisa tumbuh,” katanya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka