Jakarta (KABARIN) - Produser Musikal Perahu Kertas dari Indonesia Kaya, Billy Gamaliel, memastikan pementasan mendatang akan menghadirkan cerita setia pada novel Dee Lestari, bukan sekadar versi filmnya. Fokus utama kisah kini lebih pada perjuangan meraih mimpi daripada hanya menonjolkan romansa.
"Justru kita tidak berbeda dengan novel tapi mengadaptasi murni (pure) dari novel. Jadi yang berbeda memang dari film... ini romansanya menjadi elemen sekunder," ujar Billy di Jakarta, Rabu.
Beberapa detail yang muncul di film, seperti “pemadam kelaparan”, akan tetap ada di naskah melalui dialog, tetapi tidak diwujudkan secara visual di atas panggung.
Musikal ini akan menonjolkan dunia imajinatif Kugy sebagai seorang pendongeng, didukung teknologi visual panggung. Penulis skenario Widya Arifianti atau Bida menekankan pentingnya menjaga keaslian cerita agar roh novel Dee Lestari tetap terasa.
Meski setia pada novel, tim produksi tetap memilah adegan untuk menyesuaikan durasi pementasan. Sebanyak 21 lagu disiapkan untuk memperkuat suasana, dengan dua lagu baru yang sudah dirilis berjudul "Miliaran Manusia" dan "Agency".
Konsep interaksi langsung aktor dengan penonton atau “breaking the fourth wall” tidak diutamakan agar penonton lebih fokus masuk ke dunia imajinatif Kugy dan Keenan. Nuansa cat air yang menjadi ciri khas visual novel juga diadaptasi ke panggung melalui penggunaan boneka (puppets), menghadirkan warna dan keunikan cerita yang sulit divisualkan secara nyata.
"Gimana puppets ini sebenarnya juga menjawab berbagai tantangan kreatif saat menyadur buku ini ke panggung... karena ini sangat imajinatif, sangat eksploratif. Lihat posternya saja luar biasa, ini sangat 'water color'," jelas Billy.
Pementasan Musikal Perahu Kertas dapat disaksikan mulai 30 Januari hingga 15 Februari 2026 di Ciputra Artpreneur Jakarta. Tiket tersedia secara daring melalui loket.com/musikalperahukertas untuk total 21 pertunjukan.
Sumber: ANTARA