Jakarta (KABARIN) - Soraya Intercine Films menghadirkan film Suzzanna ke-3 bertajuk "Suzzanna: Santet, Dosa Di Atas Dosa" yang membalikkan sisi sang legenda ratu horor Suzzanna Martha Frederika van Osch sebagai manusia, bukan hantu yang bernama Suketi.
Aktor Reza Rahadian memberikan apresiasi tinggi kepada rumah produksi tersebut karena memilih pendekatan itu lewat judul film terbarunya.
"Bayangkan, ini nama asli yang dipakai jadi sebuah IP besar, dan kita membawa ini ke level berikutnya (next level)," ujar Reza saat konferensi pers peluncuran cuplikan (trailer) film tersebut di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Senin.
Reza menilai pendekatan asli mendiang Suzzanna tercermin dari judul yang dipilih oleh rumah produksi (production house) dalam melestarikan Suzzanna sebagai kekayaan intelektual (intellectual property) film Indonesia.
Selain itu, konsistensi cerita dan skala produksi yang besar menjadi alasan utama Reza kembali bekerja sama dengan Soraya Intercine Films.
Ia baru kembali bergabung setelah 13 tahun sejak membintangi "Tenggelamnya Kapal Van der Wijck" (2013).
Reza mengaku tertarik pada isu perlawanan (resist) terhadap kekuasaan sewenang-wenang dalam cerita baru yang ditawarkan film ini, meskipun tetap tidak meninggalkan aspek utama cerita dari film lawas "Santet" (1988).
Reza melihat cerita Suzzanna dikembangkan dengan visi karakter manusia yang sedang terluka (wounded). Visi itu dipenuhi oleh sutradara Azhar Kinoi Lubis saat melakukan diskusi mendalam bersama para pemeran utama.
Kinoi memberikan ruang bagi para pemain untuk memberikan masukan kreatif (input) agar setiap adegan terasa lebih hidup.
Aktris Luna Maya juga menyatakan karakter Suzzanna kali ini tampil sebagai manusia seutuhnya dari awal hingga akhir film.
Peran kali ini berbeda dari keterlibatan Luna dalam "Suzzanna: Bernapas dalam Kubur" (2018) dan "Suzzanna: Malam Jumat Kliwon" (2023).
Dalam film terbarunya, ia tidak ditampilkan sebagai sosok hantu (sundel bolong).
Luna dilatih memerankan mendiang Suzzanna yang asli, dari cara bicara hingga intonasi suara sang legenda, dengan harapan membuat penonton cuplikan (trailer) maupun penonton filmnya saat diputar di bioskop nanti terkecoh.
Produser Sunil Soraya mendukung totalitas penampilan Luna tersebut dengan menghadirkan ahli riasan dari Bali dan Belgia, menggantikan tim rias dari film sebelumnya yang didatangkan dari Rusia.
Soraya mengatakan metode cetak riasan prostetik terbaru pada Luna Maya menuntut kedisiplinan pemain dalam menjaga berat badan agar bentuk riasan tidak berubah.
"Jika terjadi perubahan berat badan, misalnya, tim produksi harus membuat ulang riasan dari awal guna menjaga konsistensi. Jadi Luna benar-benar dijaga penampilannya," kata Soraya.
Selain itu, teknologi citra hasil komputer (CGI) diaplikasikan pada tahap akhir untuk menyelaraskan detail wajah agar menyerupai sosok Suzzanna menyesuaikan detail wajah seperti posisi alis yang asli.
Selain riasan, manajemen produksi juga membangun rumah asli bergaya tahun 1982 sebagai set di Pangandaran dan melakukan "practical effect" adegan peledakan empat unit mobil serta pembakaran rumah secara langsung.
Reza Rahadian menceritakan bahwa adegan tersebut memicu reaksi kaget yang spontan darinya karena ia tidak menyangka skala ledakan akan sebesar itu di lokasi syuting, beda dari sekadar ledakan aba-aba (cue) di lokasi saja.
Soraya menjelaskan pilihan membuat ledakan dengan practical effect hingga set syuting dibangun dari baru di Pangandaran karena tim menarik standar produksi dari film legendaris Suzzanna di masa lalu.
Selain Reza dan Luna, film yang naskahnya telah dikembangkan sejak 2016 itu melibatkan jajaran pemeran seperti Djenar Maesa Ayu, Adi Bing Slamet hingga Aziz Gagap.
Film dijadwalkan tayang di bioskop se-Indonesia mulai hari pertama Lebaran 2026, 18 Maret mendatang.
Sumber: ANTARA