Jakarta (KABARIN) - Kesuksesan "War Machine" memuncaki daftar film teratas di Netflix membuat pihak rumah produksi Lionsgate membuka suara bahwa film aksi fiksi ilmiah yang ditayangkan di platform streaming itu memiliki kualitas yang membuat penonton sinema langsung jatuh suka.
Presiden Lionsgate Motion Picture Group Erin Westerman menjelaskan bahwa mereka tidak membuat film yang dirilis ke platform digital itu untuk dipandang sebelah mata atau tidak bersaing secara kualitas dengan film-film layar lebar.
"Kami mengembangkan untuk bioskop dan itulah mengapa kualitasnya sangat bagus serta pembuat film merasa sangat diperhatikan," ujar Westerman dilansir dari laporan wawancara The Wrap, Rabu (11/3).
Proyek "War Machine" sudah mulai dikembangkan sejak 2017 sebagai film yang diarahkan dengan standar kualitas produksi film layar lebar oleh sutradara Patrick Hughes, setelah kesuksesan "Hitman's Bodyguard".
Setelah rampung, Lionsgate pergi ke pasar film sekitar 2025 lalu, tepat setelah serial "Reacher" yang melambungkan nama aktor Alan Ritchson menjadi salah satu tayangan aksi teratas di Prime Video.
"Niat kami adalah membuatnya untuk bioskop, tetapi pasar pengaliran (streaming) sangat bergairah (frothy) saat tim penjualan memulai percakapan dengan pembeli internasional," kata Westerman.
Alan Ritchson memiliki kontrak tiga film dengan Amazon. Makanya perusahaan tersebut, menurut Westerman, sangat tertarik untuk mengambil hak distribusi film "War Machine" yang juga dibintangi oleh aktor tersebut.
Namun sang aktor ternyata ingin membangun hubungan dengan platform streaming lain untuk memperluas jangkauan penontonnya di luar platform milik Amazon (Prime Video).
Westerman mengaku sudah jatuh cinta dengan bakat Ritchson sejak mereka bekerja sama dalam pembuatan film drama "faith-based" berjudul "Ordinary Angels" sehingga keinginan sang aktor sangat dipertimbangkan oleh dia.
Tapi Lionsgate tidak memiliki layanan pengaliran (streaming) sendiri sehingga setiap keputusan distribusi bersifat sangat khusus (bespoke) untuk menyesuaikan kebutuhan setiap karya.
Keputusan melepaskan penayangan bioskop kemudian diambil bersama-sama lagi dengan sutradara Patrick Hughes dan produser mitra Todd Lieberman sampai semua pihak merasa memiliki tujuan sama.
Meskipun menolak merinci anggaran, Westerman menegaskan lagi bahwa film "War Machine" dibuat dengan standar teknis tingkat bioskop agar kualitas produksi tetap terjaga maksimal.
Film itu menceritakan calon anggota pasukan elit (Army Ranger) yang harus melawan robot raksasa yang sedang memburu unit militer di sekitarnya.
Pilihan Lionsgate akhirnya membuahkan hasil positif setelah "War Machine" berhasil meraih 39,3 juta penonton pada masa awal penayangannya di Netflix.
Sumber: Thewrap