Jakarta (KABARIN) - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya dilakukan dengan pendekatan yang ramah anak, bukan dengan cara-cara yang terkesan memaksa atau melibatkan aparat keamanan.
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra mengatakan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) perlu hadir dengan pendekatan yang lebih persuasif dan humanis.
“Badan Gizi Nasional (BGN) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus hadir dengan pendekatan ramah anak, bukan sekadar instruksi yang melibatkan aparat keamanan,” kata Jasra di Jakarta, Selasa.
Pernyataan itu disampaikan Jasra merespons kabar dari Banyuwangi, di mana kepala SPPG setempat mengaku kesulitan meningkatkan jumlah penerima manfaat MBG. Masalah muncul karena sejumlah sekolah elite menolak program tersebut, meski penyaluran MBG sudah melibatkan aparat seperti danramil dan kapolsek.
Menurut Jasra, situasi seperti ini seharusnya tidak disikapi dengan pendekatan komando.
“Dinamika di lapangan, seperti adanya narasi penolakan dari sekolah maupun anak, harus disikapi dengan pendekatan psikologis dan medis, bukan sekadar komando birokrasi,” katanya.
Selain soal pendekatan, KPAI juga mendorong BGN dan SPPG untuk memiliki basis data kesehatan anak penerima MBG, khususnya rekam medis Angka Kecukupan Gizi (AKG). Data ini dinilai penting agar program MBG tidak disamaratakan untuk semua anak, tetapi benar-benar disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing.
Jasra menilai langkah ini mendesak, mengingat kondisi kesehatan anak-anak Indonesia saat ini cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sekitar 15–20 persen anak usia sekolah mengalami gejala maag atau gangguan lambung akut.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti meningkatnya kasus hipertensi, diabetes, dan obesitas pada anak-anak akibat konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) berlebih dari makanan olahan.
“Jika kita punya rekam medis AKG dari PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) hingga kuliah, MBG akan menjadi instrumen penyelamat generasi. Kita bisa mendeteksi dini anak yang malnutrisi, obesitas, hingga yang memiliki gangguan tiroid atau anemia,” katanya.
KPAI berharap program MBG benar-benar dijalankan dengan pendekatan yang berpihak pada anak, baik dari sisi psikologis, kesehatan, maupun hak anak, sehingga tujuan memperbaiki gizi generasi muda bisa tercapai secara optimal.
Sumber: ANTARA