Gayo Lues, Aceh (KABARIN) - Jembatan perintis penghubung desa terisolasi yakni Desa Uyem Beriring dan Pasir di Kecamatan Tripe Jaya, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, ditargetkan rampung pada pekan ini.
Hingga Selasa malam, tiang-tiang jembatan telah tertancap. Prajurit TNI Angkatan Darat dari Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 855/Raksaka Dharma memulai pembangunan jembatan tersebut sepekan terakhir.
Komandan Peleton Konstruksi Bangunan Yonif TP 855 Letnan Dua Korps Zeni M Ragil, saat ditemui di Uyem Beriring, Aceh, Selasa, mengatakan jembatan perintis itu nantinya akan menggantikan jembatan darurat yang saat ini digunakan warga setempat.
"Kami sedang buat fasilitas jembatan gantung. Di sana kan ada jembatan, kalau orang sini menyebutnya lumpe (jembatan darurat), jembatan tali dua. Ini kami buat jembatan gantung yang permanen," katanya kepada ANTARA.
Desa Uyem Beriring dan Pasir terpisahkan oleh aliran sungai. Jembatan yang dahulunya menghubungkan kedua desa tersebut ambruk saat banjir bandang dan tanah longsor menerjang akhir tahun lalu.
Hingga saat ini, warga Desa Pasir yang ingin menyeberang ke Desa Uyem Beriring, maupun sebaliknya, mesti menggunakan jembatan darurat dari tali yang hanya bisa dilalui oleh manusia.
Bantuan dari relawan juga diseberangkan lewat jembatan itu, selain via helikopter.
Nantinya, ucap Ragil, jembatan perintis yang akan menggantikan jembatan darurat tersebut akan bisa dilalui kendaraan bermotor roda dua. Dengan begitu, kedua desa tersebut dapat terhubung kembali.
"Seminggu ini, insya Allah selesai (jembatannya). Kemarin barang sudah datang juga dibantu pemda bahan-bahannya, kami yang mengerjakan," tuturnya.
Pembangunan jembatan itu disebut tidak membutuhkan waktu lama lagi.
"Nanti sebelah sana (tepian sungai di Desa Pasir), kami tinggal tarik saja. Sudah mau dilas, tinggal tarik, kami cor, nanti tarik sling," ujarnya.
Warga Desa Uyem Beriring, Idris (64), mengatakan masyarakat turut bergotong royong membangun jembatan tersebut.
Ia berharap pembangunan dapat selesai segera karena saudaranya masih ada yang menetap di Desa Pasir.
"Saya terbantu dengan adanya jembatan, karena saudara banyak di sana (Desa Pasir). Kan cuma lewat sana, satu-satunya jalan,” kata Idris saat ditemui ANTARA di depan rumahnya yang masih tertimbun tanah.
Sumber: ANTARA