Jakarta (KABARIN) - Pemerintah Kota Jakarta Utara mulai tancap gas menyiapkan langkah serius untuk menghadapi ancaman banjir rob. Sepanjang 2026, Pemkot Jakut memprioritaskan penguatan sistem tata air sebagai upaya utama melindungi wilayah pesisir dari banjir dan genangan yang kerap terjadi.
“Pada tahun 2026 nanti, akan ada pembangunan infrastruktur tata air di wilayah Jakarta Utara. Wilayah ini menjadi salah satu fokus utama pembangunan oleh Dinas SDA (Sumber Daya Air) Provinsi DKI Jakarta pada 2026,” kata Wali Kota Jakarta Utara Hendra Hidayat di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Rabu.
Hendra menegaskan, pembangunan infrastruktur tata air ini sangat krusial mengingat Jakarta Utara merupakan wilayah yang cukup rentan terhadap banjir dan rob. Karena itu, pemerintah mulai melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami rencana yang akan dijalankan.
“Kegiatan sosialisasi rencana pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana tata air kita sudah lakukan, karena ini penting untuk kita perhatikan bersama, menyangkut upaya perlindungan wilayah dan masyarakat dari banjir,” ujar Hendra.
Sosialisasi tersebut turut menghadirkan Kepala Dinas SDA Provinsi DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum. Menurut Hendra, kegiatan ini bertujuan memberi gambaran menyeluruh soal rencana pengendalian banjir dan rob, khususnya di kawasan Jakarta Utara yang selama ini dikenal rawan genangan dan banjir pesisir.
Ia berharap seluruh program yang dirancang bisa berjalan sesuai jadwal dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga.
“Semoga seluruh perencanaan dan pelaksanaan pembangunan ini berjalan tepat waktu dan membawa manfaat bagi warga Jakarta Utara,” ucap Hendra.
Lewat sosialisasi ini, Pemkot Jakut juga ingin memperkuat sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan masyarakat dalam menghadapi persoalan banjir dan rob secara berkelanjutan.
Dalam paparannya, Ika menjelaskan bahwa pengendalian banjir dan rob di Jakarta Utara dilakukan secara terintegrasi, bukan setengah-setengah. Strateginya mencakup penguatan tanggul, pembangunan dan peningkatan rumah pompa, hingga pengembangan sistem polder yang saling terhubung.
“Pengendalian banjir di Jakarta Utara tidak bisa dilakukan secara parsial. Kita lakukan secara menyeluruh melalui pembangunan tanggul, peningkatan kapasitas pompa, dan sistem tata air yang terintegrasi,” jelas Ika.
Sejumlah program strategis pun sudah disiapkan. Di antaranya penguatan tanggul Kali Cakung Lama sepanjang sekitar 2,4 kilometer, pembangunan dan peningkatan rumah pompa Bulak Cabe, Pegangsaan Dua, Cilincing KBN, IKIP, serta peningkatan kapasitas Rumah Pompa Ancol.
Selain itu, Dinas SDA DKI juga mengembangkan sistem polder di kawasan Kelapa Gading, Sukapura, Pegangsaan Dua, Semper, hingga Cilincing untuk menekan potensi genangan air.
Ika menambahkan, seluruh infrastruktur tersebut dirancang agar sesuai dengan karakter wilayah pesisir Jakarta Utara yang kerap menghadapi banjir kiriman dan rob.
“Peningkatan kapasitas pompa dan sistem polder diharapkan mampu mempercepat pengendalian aliran air saat curah hujan tinggi maupun pasang laut,” terang Ika.
Tak hanya fokus pada banjir, Dinas SDA DKI juga menyiapkan program khusus pengendalian rob. Langkahnya meliputi pembangunan tanggul pengaman pantai, pemeliharaan infrastruktur pesisir, serta kajian untuk mengendalikan penurunan muka tanah yang selama ini memperparah dampak rob di Jakarta Utara.
Sumber: ANTARA