Jakarta (KABARIN) - Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta menangani kasus anak yang terjerat terorisme di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.
"Salah satunya, di Jakarta Selatan, ada satu anak korban terpapar terorisme dan radikalisme. Nah, itu dari grup Telegram yang kemudian belajar mereka Neo-Nazi," kata Chairul Luthfi, Tenaga Ahli Pemenuhan Hak Korban Kekerasan Perempuan dan Anak UPT PPPA Provinsi DKI Jakarta, saat ditemui di Jakarta Selatan.
Chairul menyampaikan fakta itu saat kegiatan sosialisasi bertema "Ciptakan Ruang Publik Bebas Pelecehan terhadap Perempuan dan Anak" di Taman Literasi Blok M, Jakarta Selatan. Ia menyoroti bahaya ideologi radikalisme yang bisa gampang diakses anak lewat aplikasi daring seperti Telegram.
Ia menekankan pentingnya pengawasan orangtua tidak cuma di dunia nyata tapi juga di dunia maya supaya anak bisa terhindar dari pengaruh negatif.
"Ternyata, setelah kita telusuri dari Densus 88 pada waktu itu, dari lima korban, ada dua yang sudah kita tangani, yakni yang pertama di Jakarta Selatan dan kedua di Jakarta Timur," ungkap Chairul.
Chairul juga mengingatkan agar orangtua mewaspadai grup-grup online yang berpotensi berbahaya dan tidak mudah difilter. Ia menambahkan masyarakat bisa melapor jika melihat kejadian mencurigakan lewat hotline PPA 081317617622 yang aktif 24 jam.
"Bapak, ibu, untuk fasilitas layanan kami dari nomor tersebut, kapanpun jika melihat, mendengar atau bahkan mengetahui secara langsung adanya kekerasan, segera laporkan, karena mandat Undang-undang Perlindungan Anak, yakni negara, pemerintah pusat, pemerintah daerah, kemudian kelompok masyarakat, orang tua bersama-sama menjaga, memenuhi, dan melindungi hak anak," tutur Chairul.
Sepanjang 2025, Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak DKI Jakarta menangani 2.269 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Jakarta Selatan sendiri mencatat 460 kasus dan masuk peringkat kedua wilayah dengan kasus terbanyak di ibu kota.
Sumber: ANTARA