Kenapa Remaja Gampang Ikut Tren? Ini Penjelasan Psikolog

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Psikolog Klinis dari Dinamis Biro Psikologi, Shabrin Risti Aulia, M.Psi., mengungkap alasan mengapa remaja sering terbawa arus tren dan kebiasaan yang berkembang di sekitarnya.

“Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan,” kata Shabrin.

Ia menjelaskan, sistem limbik merupakan bagian otak yang berperan dalam mengatur rasa senang dan dorongan untuk mendapat kepuasan. Sementara itu, prefrontal cortex yang bertugas menimbang risiko dan membuat keputusan logis belum berkembang optimal pada usia remaja.

Kondisi ini membuat remaja cenderung memilih hal-hal yang terasa seru, memicu adrenalin, atau memberi kepuasan instan tanpa banyak memikirkan dampaknya.

Selain soal perkembangan otak, fase pencarian jati diri juga punya pengaruh besar. Di usia ini, keinginan untuk diterima oleh lingkungan semakin kuat. Remaja sering merasa diperhatikan oleh orang lain, mulai dari penampilan hingga perilaku, sehingga muncul dorongan untuk menyesuaikan diri dengan kelompoknya.

Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut menambahkan bahwa remaja kerap menjadikan tren sebagai pintu masuk untuk mendapatkan pengakuan sosial dan pengalaman baru.

“Saat remaja ada dalam lingkungan dengan norma tertentu, besar kemungkinan ia akan mencoba fit in dengan lingkungan tersebut,” ujar Shabrin.

Kemampuan mengelola emosi yang masih berkembang juga membuat sebagian remaja mencari pelarian dari tekanan. Tren yang dianggap menyenangkan kerap dipilih karena mampu mengalihkan stres, sementara risiko yang menyertai sering kali diabaikan.

Menurut Shabrin, mengikuti tren bukan sekadar ikut-ikutan. Bagi banyak remaja, hal itu menjadi cara untuk menunjukkan siapa diri mereka dan merasa diakui sebagai bagian dari kelompok sosial tertentu.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka