Meskipun sawahnya dia yang rehabilitasi, itu dibayar supaya ada pendapatan. Karena kalau itu satu-satunya pendapatan dia, sementara sawahnya kayak begitu (rusak), (petani) tidak akan ada pendapatan lagi,
Jakarta (KABARIN) - Pengamat pertanian dan pangan dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori mengatakan, program alternatif pendapatan bagi petani dapat menjadi opsi intervensi pemerintah dalam upaya pemulihan sawah yang berada di wilayah terdampak bencana di Sumatera dan Jawa.
“Karena kalau hanya mengharapkan petani, saya kira akan sulit. Mereka hari-hari ini belum sepenuhnya pulih. Kalau itu (sawah) adalah satu-satunya gantungan hidup mereka, maka dalam jangka pendek, pemerintah harus menciptakan program-program yang memberikan mereka alternatif pendapatan,” kata Khudori saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Ia menilai, program alternatif pendapatan ini harus berjalan bersamaan dengan upaya perbaikan infrastruktur dan rehabilitasi sawah yang melibatkan petani.
“Meskipun sawahnya dia yang rehabilitasi, itu dibayar supaya ada pendapatan. Karena kalau itu satu-satunya pendapatan dia, sementara sawahnya kayak begitu (rusak), (petani) tidak akan ada pendapatan lagi,” jelas Khudori.
“Sepanjang sawahnya belum pulih, (petani) tidak bisa (bekerja). Dan kalau pun sawahnya pulih, itu kan kalau petani menanam lagi, sampai panen juga masih membutuhkan waktu,” ujarnya menambahkan.
Lebih lanjut, ia mengatakan, hal ini urgen, mengingat provinsi seperti Aceh dan Sumatera Utara merupakan lumbung beras yang penting bagi sektor pangan lokal dan nasional.
“Jangan lupa bahwa Sumut, Aceh, itu termasuk lumbung beras. Dampak secara nasional pasti ada. Nah, apa yang harus dilakukan pemerintah, tentu bagaimana memulihkan sawah itu,” kata dia.
Khudori menambahkan, diperlukan pula langkah cepat baik dari pemerintah daerah dan pusat untuk melakukan pendataan petani yang menjadi korban bencana dan sawahnya terdampak.
“Setelah itu, bisa dipertimbangkan adanya program-program yang membuat mereka aktif, dalam arti bekerja dan dibayar supaya ada pendapatan. Ini agar pelan-pelan ekonominya pulih seiring dengan rehabilitasi dan rekonstruksi,” kata Khudori.
Ia mengakui bahwa upaya-upaya ini memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Namun, kolaborasi dari para pemangku kepentingan termasuk yang terpenting adalah pemerintah pusat dan daerah, diharapkan mampu mengakselerasi pemulihan wilayah, petani, dan pada akhirnya membuat kegiatan ekonomi kembali menggeliat.
“Kira-kira butuh waktu berapa lama, itu masih belum bisa kita prediksi. Ini semua tergantung juga dari intervensi (pemerintah) itu tadi. Kalau cakupan luasan (sawah terdampak bencana) sedemikian luas, itu pasti butuh waktu,” ujar Khudori.
Sumber: ANTARA