Bangkit dari Galodo, Kopi Tungkuik Malalak Tetap Mengepul

waktu baca 5 menit

Kabupaten Agam (KABARIN) - Kecamatan Malalak dan Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, termasuk daerah yang paling parah terkena sapuan banjir bandang pada akhir November 2025.

Di Kecamatan Malalak, salah satu titik terparah yang disapu galodo, begitu masyakarat daerah itu menyebutnya, tidak hanya menimbulkan korban jiwa tetapi juga menyebabkan warga harus kehilangan tempat tinggalnya.

Semua aktivitas perekonomian terhenti. Bahkan hingga kini masih banyak yang tidak berani untuk memulai usahanya. Tapi tidak dengan Syafniwar dan suaminya. Ibu dua anak ini memberanikan diri untuk tetap membuka usaha kulinernya meskipun bahaya terus menghantui.

Warung Syafniwar berada di Jalan Lintas Malalak-Bukittinggi atau di antara kilometer 74 sampai dengan kilometer 80. Sewaktu bencana terjadi, rumah sekaligus warung miliknya tertimbun material longsor. Ia sempat mengungsi karena jika tetap bertahan maka nyawa taruhannya.

Selama beberapa pekan ia bersama warga setempat terisolasi. Jalan dari arah Kabupaten Padang Pariaman maupun ke Kota Bukittinggi putus total. Aktivitas perekonomian lumpuh, warga hanya bergantung pada bantuan dari luar untuk sekadar mengisi lambung.

Seiring pemulihan jalan yang dikebut pemerintah, perlahan namun pasti akses jalan yang sebelumnya terputus khususnya di kilometer 74 kini sudah bisa dilintasi menggunakan jembatan bailey yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum.

Aktivitas perekonomian dan mobilitas warga mulai bergerak. Syafniwar menangkap hal ini merupakan awal dan momentum bangkit untuk memulai usahanya setelah sekian lama tutup akibat terdampak bencana.

Selain menyediakan masakan Padang, ia memiliki satu kuliner khas Nagari Malalak yang kerap menjadi buruan para wisatawan yakni kopi tungkuik. Minuman berbahan utama kopi ini hanya dapat ditemukan di Kecamatan Malalak dan satu gerai di pusat kuliner Upiak Banun, Kabupaten Padang Pariaman, yang dipasok dari usaha Syafniwar.

Jika pada umumnya kopi diminum dengan gelas menghadap ke atas, Kopi tungkuik tidak demikian. Minuman berbahan kopi robusta ini diminum dengan gelas terbalik. Cara minumnya pun tergolong unik yakni sisi lingkaran gelas harus ditiup menggunakan sedotan agar kopi keluar dari celah atau bibir gelas.

Ide kopi tungkuik berangkat dari pemikirannya yang out of the box. Syafniwar mempercayai sesuatu yang disajikan berbeda mampu menarik perhatian konsumen, begitu juga dengan kopi tungkuik.

Usaha kopi tungkuik ini telah ia lakukan sejak 2017 dan hingga kini terus eksis serta menjadi buruan para pecinta kopi. Sebelum bencana terjadi, cukup banyak ditemukan pedagang kaki lima yang juga menjual kopi tatungkuik di sekitaran Jalan Lintas Malalak. Namun, Syafniwar mengklaim ia merupakan orang pertama yang mengenalkan kopi tungkuik yang kemudian diikuti oleh pedagang lainnya.

"Untuk bahan baku tidak ada pedagang sama dengan kopi yang saya buat," ujarnya.

Sebelum bencana terjadi, Syafniwar bisa menghabiskan hingga 500 kilogram kopi per bulan. Satu kilogram kopi tersebut akan menghasilkan 65 gelas kopi. Satu gelas kopi dijual dengan harga Rp12 ribu hingga Rp13 ribu atau bergantung pada varian rasa yang dipesan oleh konsumen.

Selain masyarakat Sumatera Barat dan wisatawan dari berbagai provinsi tetangga, warung kopi tungkuik milik Syafniwar juga telah dikunjungi oleh publik figur seperti Ucok Baba.

Namun, setelah bencana banjir bandang terjadi, omzet usaha kopi tungkuik miliknya turun. Meskipun demikian, ia menyakini usaha tersebut akan kembali bangkit seiring perbaikan jalan dan jembatan yang terus dikebut oleh Kementerian Pekerjaan Umum.

"Bencana yang terjadi tidak boleh mematahkan semangat untuk berdagang," kata dia.

Selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia menyakini banyak orang yang juga mengharapkan agar warung-warung tetap dibuka sehingga kebutuhan dapat terpenuhi di lokasi terdampak bencana.

Apalagi, di tengah kondisi pemulihan bencana orang-orang yang setiap harinya bekerja membangun jembatan darurat dan memperbaiki jalan yang terputus sangat bergantung pada pedagang lokal yang tetap setia membuka warungnya meskipun rasa cemas dan trauma masih menyelimuti.

Warung itu juga menjadi tujuan para pekerja yang sedang membangun jembatan di sekitar daerah itu.

Kementerian Pekerjaan Umum sedang menyiapkan desain pembangunan jembatan permanen di jalur Malalak menuju Kota Bukittinggi, Sumatera Barat dan sekitarnya sembari menuntaskan pengerjaan jembatan sementara guna memperlancar mobilitas dan arus logistik.

Rancangan desain sangat penting sebelum dibangunnya jembatan permanen. Selain lokasinya yang curam dan terjal karena dikelilingi perbukitan dan jurang, beberapa titik jalur Malalak-Bukittinggi juga melintasi kawasan hutan lindung dan konservasi sehingga membutuhkan izin dari kementerian terkait.

Tidak hanya itu, Kementerian Pekerjaan Umum juga mengkaji apakah nantinya pembangunan sabo dam juga bisa merangkap sebagai jembatan atau tidak, tergantung dari kondisi serta efisiensi di lapangan. Infrastruktur ini sekaligus mitigasi yang disiapkan untuk mencegah jika terjadi banjir bandang.

Sementara itu, Farhan salah seorang mahasiswa Universitas Padjadjaran asal Kota Bukittinggi mengaku sudah menjadi pelanggan Kopi Tungkuik sejak masih duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Setiap libur semester ia sengaja menyempatkan diri untuk menyeruput Kopi Tungkuik buatan Syafniwar. Cita rasa yang khas dan cara minumnya yang unik menjadi alasan Farhan jauh-jauh dari Kota Bukittinggi hanya untuk mendapatkan segelas minuman khas Malalak tersebut.

"Rasa kopinya itu khas sekali karena ada campuran beras ketan hitam. Selain itu, cara minumnya pun juga unik karena harus ditiup menggunakan sedotan," ujarnya.

Mahasiswa semester IV yang juga pecinta kopi ini menyebut jika diberikan penilaian 1 hingga 10, maka kopi tungkuik Malalak layak mendapatkan poin 9 karena cita rasa dan keunikannya yang sangat berbeda dengan kopi pada umumnya.

Bahkan, ia tidak sungkan untuk mengenalkan kopi khas Malalak itu kepada para mahasiswa dan teman kosnya di Bandung.

"Saya cukup sering menyampaikan kepada teman-teman kuliah, kalau berkunjung ke Sumatera Barat khususnya ke Malalak maka harus mencoba sensasi Kopi Tungkuik," ujarnya.

Penikmat kopi lainnya asal Kota Padang, Fandi mengatakan baru pertama kali merasakan kopi tungkuik khas Malalak. Selama ini, dia sudah sering mendengar minuman tersebut namun baru sempat mencicipinya ketika melakukan peliputan ke daerah bencana.

"Rasanya sangat khas. Cara minumnya pun unik," ujar dia.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka