Pemerintah Kebut Pembersihan Sekolah dan Pesantren di Sumatera Barat

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Pemerintah melalui TNI Angkatan Darat terus ngebut melakukan pembersihan dan perbaikan sekolah serta pesantren di Sumatera Barat (Sumbar) yang terdampak banjir. Langkah ini dilakukan agar aktivitas belajar mengajar bisa segera kembali normal.

Pada Kamis (29/1), prajurit TNI dari Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol turun langsung membersihkan sekaligus merevitalisasi sejumlah fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana. Fokusnya bukan cuma membersihkan lumpur, tapi juga memperbaiki bangunan yang terdampak cukup parah.

Salah satu lokasi yang dikerjakan adalah Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Paninggahan di Kabupaten Solok. Dalam keterangan yang diterima di Jakarta pada Jumat, personel TNI menyebut proses renovasi sudah masuk tahap akhir.

"Beberapa bagian pesantren yang rusak kini sudah bisa kembali difungsikan. Kami melaksanakan renovasi sekolah MTI Paninggahan yang terdampak bencana banjir yang lalu. Kegiatan kami saat ini sudah di tahap akhir pengecatan pagar dan toilet yang belum dicat. Kita dapat bantuan cat, kita laksanakan pengecatan hari ini sama kemarin," ujar salah satu personel TNI.

Pembenahan yang dilakukan cukup menyeluruh. Mulai dari mengganti dinding dan pintu yang rusak, mengecat ulang bangunan, memperbaiki instalasi listrik, hingga mengangkut sisa material banjir seperti pasir, tanah, dan batu. Area pekarangan sekolah dan saluran air juga dibersihkan supaya lingkungan belajar jadi lebih aman dan nyaman.

Selain pesantren, SMP Negeri 1 Maninjau di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, juga menjadi salah satu titik fokus. Di sekolah ini, prajurit TNI bekerja bareng warga membersihkan sisa bencana sekaligus memperbaiki kerusakan ringan di sejumlah fasilitas.

Aksi serupa turut dilakukan di SD Negeri 09 Bancah, Jorong Bancah, Nagari Maninjau, serta beberapa lokasi pendidikan lain di wilayah terdampak.

Pemerintah berharap upaya ini bisa mempercepat kembalinya kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Revitalisasi sekolah dan pesantren menjadi prioritas agar anak-anak tidak terlalu lama terdampak kondisi darurat.

Sementara proses perbaikan berjalan, siswa dan guru di sekolah yang mengalami kerusakan berat masih menjalani kegiatan belajar mengajar di tenda. Pemerintah juga menerapkan skema pembelajaran yang adaptif dan fleksibel agar pendidikan tetap berjalan meski dalam situasi pascabencana.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka