Perang Timur Tengah Bisa Sebabkan Rekor Kelaparan Global Tertinggi

waktu baca 2 menit

Jenewa (KABARIN) - Situasi konflik di Timur Tengah ternyata bukan cuma soal geopolitik. Dampaknya bisa menjalar jauh ke seluruh dunia, termasuk urusan perut jutaan orang. World Food Programme (WFP) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengingatkan, kalau konflik ini terus berlanjut, dunia bisa menghadapi lonjakan kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Peringatan itu disampaikan Wakil Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau, dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, Selasa (17/3). Ia menyebut, kalau konflik Timur Tengah terus berlangsung sampai Juni, sekitar 45 juta orang tambahan bisa terdorong ke kondisi kelaparan akut.

"Jika konflik Timur Tengah berlanjut hingga Juni, tambahan 45 juta orang dapat terdorong ke dalam kelaparan akut akibat kenaikan harga," kata Skau.

Menurut dia, konflik ini bukan cuma berdampak lokal, tapi sudah memicu efek domino global. Salah satu yang paling terasa adalah terganggunya rantai pasokan bantuan kemanusiaan. Bahkan, Skau menyebut gangguan ini jadi yang paling parah sejak pandemi COVID-19 dan krisis Ukraina.

Di lapangan, kondisi makin rumit. Pengiriman bantuan jadi lebih lama, sementara biaya operasional ikut melonjak. WFP yang setiap hari mengoperasikan ribuan truk bantuan kini harus menghadapi kenaikan biaya pengiriman hingga 18 persen, terutama karena harga minyak yang ikut naik.

Dampaknya? Bantuan yang seharusnya menjangkau lebih banyak orang jadi terbatas. Di Sudan, WFP terpaksa mengurangi jatah makanan bagi warga yang sudah terancam kelaparan. Sementara di Afghanistan, yang saat ini jadi pusat krisis malnutrisi terburuk di dunia, lembaga tersebut hanya mampu membantu satu dari empat anak yang mengalami kekurangan gizi akut.

Masalah lain juga muncul dari sisi distribusi global, khususnya pupuk. Skau menyoroti kondisi Selat Hormuz yang hampir terhenti, padahal jalur ini sangat krusial karena menjadi rute utama bagi sekitar seperempat pasokan pupuk dunia.

Gangguan ini berpotensi memicu kenaikan harga pangan dan bahan bakar secara global. Imbasnya jelas: semakin banyak keluarga yang kesulitan membeli makanan pokok.

Skau pun menegaskan bahwa negara-negara yang bergantung pada impor akan jadi pihak paling rentan terdampak situasi ini.

Dengan kondisi yang terus memburuk, peringatan dari WFP ini jadi sinyal serius bahwa konflik di satu kawasan bisa berujung krisis kemanusiaan global. Bukan cuma soal perang, tapi juga soal bagaimana dunia memastikan semua orang tetap bisa makan.

Sumber: Xinhua

Bagikan

Mungkin Kamu Suka