Fadli Zon Kenang Jasa Tokoh Pergerakan Nasional K.H Samanhudi

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengenang jasa tokoh pergerakan nasional K.H. Samanhudi yang dikenal sebagai pendiri Sarekat Dagang Islam (SDI) dan berperan dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya persatuan dan kemandirian ekonomi di masa penjajahan.

Menurut Fadli, K.H. Samanhudi merupakan sosok pelopor yang berhasil mengorganisasi masyarakat melalui pendekatan ekonomi berbasis perdagangan, khususnya di kalangan pedagang batik di Laweyan. Langkah tersebut dinilai menjadi fondasi penting bagi lahirnya gerakan yang lebih luas di bidang sosial dan politik.

“Beliau mengorganisasikan kekuatan rakyat melalui wadah ekonomi, yakni Sarekat Dagang Islam, sebagai langkah awal dalam menghadapi dominasi kolonial,” kata Fadli dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Dia menyampaikan hal tersebut saat melakukan ziarah ke makam K.H Samanhudi di kawasan Laweyan, Surakarta, dalam rangkaian kunjungan kerja ke Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Lebih lanjut, Fadli menambahkan bahwa transformasi Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam pada tahun 1912, di bawah kepemimpinan H.O.S. Tjokroaminoto, menandai perkembangan penting dalam arah perjuangan bangsa.

Organisasi tersebut tidak hanya berfokus pada kepentingan ekonomi, tetapi juga mulai merambah ke ranah politik sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.

“Perubahan ini menunjukkan bahwa perjuangan tidak hanya berfokus pada ekonomi, tetapi juga berkembang menjadi gerakan yang memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan,” tambahnya.

K.H. Samanhudi lahir pada tahun 1868 di Surakarta dan merupakan seorang saudagar batik yang sukses. Ia mendirikan Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905 sebagai wadah untuk melindungi kepentingan pedagang pribumi dari dominasi pedagang asing.

Organisasi ini kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam, yang menjadi salah satu organisasi massa terbesar pada masa pergerakan nasional.

Atas jasa-jasanya, K.H. Samanhudi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1961. Ia wafat pada tahun 1956 dan dikenang sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Fadli menuturkan, kegiatan ziarah ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran sejarah dan menumbuhkan apresiasi terhadap perjuangan para pendahulu bangsa.

Dia menegaskan komitmennya untuk terus mengangkat nilai-nilai sejarah sebagai bagian dari pembangunan karakter dan kebudayaan nasional.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka