Tim SAR Mulai Bergerak Setelah Status Tsunami Berakhir di Malut dan Sulut

waktu baca 2 menit

Jakarta (KABARIN) - Tim SAR gabungan mulai bergerak menuju lokasi terdampak gempa di wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara setelah peringatan dini tsunami resmi dihentikan. Keputusan ini jadi sinyal bahwa kondisi sudah dinilai cukup aman untuk dilakukan penanganan langsung di lapangan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan bahwa status peringatan tsunami berakhir sekitar pukul 09.56 WIB usai melalui proses pemantauan yang ketat.

Setelah status tersebut dicabut, tim dari berbagai instansi seperti SAR, BPBD, hingga tim asesmen langsung bersiap masuk ke area terdampak untuk melakukan pengecekan dan penanganan lebih lanjut.

BMKG sendiri melakukan pemantauan muka air laut secara bertahap sebanyak tiga kali sesuai prosedur. Pengamatan dilakukan mulai sekitar 59 menit hingga hampir empat jam setelah gempa terjadi.

"Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar dalam pengambilan keputusan hingga akhirnya peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir," kata dia.

Dalam proses ini, BMKG juga menyoroti pentingnya kerja sama lintas lembaga. Kolaborasi dengan BNPB, Basarnas, dan Badan Informasi Geospasial dinilai berperan besar dalam memastikan penanganan berjalan cepat dan tepat.

Selain itu, peran media juga dianggap krusial untuk menyampaikan informasi yang benar agar masyarakat tidak terjebak kabar yang menyesatkan.

Teuku mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang. Ia juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, terutama di wilayah rawan gempa dan tsunami.

"Peningkatan mitigasi bencana penting, termasuk pembangunan infrastruktur tahan gempa dan kewaspadaan di wilayah rawan tsunami," ujarnya.

Gempa berkekuatan besar tersebut mengguncang kawasan barat daya Pulau Batang Dua di Ternate dan terasa hingga sejumlah daerah seperti Manado dan Gorontalo dengan intensitas berbeda-beda.

BMKG juga mencatat adanya kenaikan permukaan air laut di beberapa titik pesisir. Di Halmahera Barat tercatat sekitar 0,30 meter, di Bitung 0,20 meter, dan di Minahasa Utara mencapai 0,75 meter.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka