Alcaraz Kembali ke Monte Carlo dengan Status Juara Bertahan dan Rasa Percaya Diri Tinggi

waktu baca 3 menit

Jakarta (KABARIN) - Carlos Alcaraz menyambut dengan penuh semangat dimulainya musim lapangan tanah liat, terutama saat ia kembali tampil di Monte Carlo sebagai juara bertahan turnamen ATP Masters 1000 tersebut di Monako.

Petenis asal Spanyol itu mengaku memiliki kedekatan emosional dengan turnamen ini yang menjadi awal rangkaian kompetisi di lapangan tanah liat setiap musimnya.

"Saya sangat, sangat senang bisa kembali ke Monte-Carlo, turnamen pertama musim lapangan tanah liat, setidaknya bagi saya. Turnamen ini sangat bagus," kata Alcaraz dikutip dari ATP, Senin.

"Sejujurnya, saya sangat merindukan turnamen ini. Saya akan mencoba menikmati permukaan yang indah ini, turnamen yang indah ini, sebaik mungkin. Ini luar biasa."

"Berada di sini sebagai juara bertahan, itu adalah sesuatu yang jujur saja tidak saya pikirkan. Saya hanya mencoba untuk berada dalam pola pikir yang baik dan mencoba untuk menjadi lebih baik setelah setiap latihan, dan mari kita lihat bagaimana hasilnya," ujar unggulan teratas itu.

Alcaraz juga mengenang bahwa Monte Carlo menjadi titik penting dalam perjalanannya pada musim sebelumnya. Setelah awal musim 2025 yang kurang maksimal, ia justru bangkit setelah tampil di turnamen ini.

Pada musim tersebut ia sempat mengalami dua kekalahan beruntun di Indian Wells dan Miami, namun setelah tampil di Monte Carlo performanya meningkat tajam dengan mencatat 33 kemenangan dari 34 pertandingan berikutnya.

"Minggu ini benar-benar sangat penting. Ini adalah titik balik tahun 2025," kata Alcaraz.

"Setelah perasaan yang saya dapatkan di sini, saya menjadi semakin baik. Saya mengerti dan menyadari bagaimana seharusnya saya bermain setelah minggu ini."

"Itulah mengapa saya menjalani tahun yang luar biasa setelah ini. Saya ingat saya tidak bermain sebaik itu, tetapi semua yang terjadi setelah itu, itu adalah momen yang luar biasa bagi saya," ujar petenis peringkat satu ATP itu.

Secara statistik, lapangan tanah liat memang menjadi salah satu permukaan favorit Alcaraz. Ia mencatat tingkat kemenangan mencapai 84,4 persen di permukaan ini, menjadikannya salah satu yang terbaik dalam sejarah tenis modern di bawah Rafael Nadal dan Bjorn Borg.

Saat ini Alcaraz juga sedang berusaha kembali ke jalur kemenangan setelah tersingkir pada babak ketiga turnamen Miami oleh Sebastian Korda.

Ia menjelaskan bahwa kecintaannya pada clay court sudah terbentuk sejak kecil karena hampir seluruh proses awal kariernya dijalani di permukaan tersebut.

"Saya mulai bermain tenis di lapangan tanah liat. Saya tumbuh besar bermain di lapangan tanah liat. Saya mulai bermain pada usia empat tahun dan saya tidak pernah menyentuh lapangan keras sampai usia delapan tahun, dan itu pun hanya sedikit, jadi saya selalu bermain di lapangan tanah liat," kata Alcaraz.

"Itulah mengapa saya merasakan sensasi bermain di musim lapangan tanah liat dan ketika musim lapangan tanah liat berakhir, Anda harus menunggu hampir satu tahun untuk bermain lagi. Jadi itu periode waktu yang sangat lama, setidaknya bagi saya."

Meski tekanan sebagai petenis nomor satu dunia terus datang, Alcaraz tetap percaya diri untuk mempertahankan performanya, terlebih karena ia berhasil menjuarai Monte Carlo pada tahun sebelumnya.

Di babak berikutnya, ia akan menghadapi pemenang laga antara Stan Wawrinka atau Sebastian Baez setelah mendapat bye di babak pertama.

"Saya rasa tidak ada turnamen yang lebih baik untuk memulai musim lapangan tanah liat selain di sini. Saya rasa, dari segi pemandangan, ini adalah turnamen terindah yang kita miliki di tur," ujar Alcaraz.

"Sangat estetis. Ketika lapangan tanah liat sangat bagus, sempurna di awal pertandingan, lapangannya sangat estetis. Benar-benar indah."

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka