Seorang Warga di Gayo Lues Diserang Harimau saat Berkebun

waktu baca 2 menit

Korban Roni, berusia 26 tahun, mengalami luka akibat serangan harimau di kebunnya. Saat ini korban menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Salahuddin, Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara

Banda Aceh (KABARIN) - Seorang warga di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, mengalami luka setelah diserang Harimau Sumatera saat sedang berkebun. Insiden tersebut terjadi di Desa Singah Mulo, Kecamatan Putri Betung, pada Selasa (19/5) sekitar pukul 12.30 WIB.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh, Ujang Wisnu Barata, mengatakan korban bernama Roni (26) kini sedang menjalani perawatan medis di RSUD Salahuddin.

"Korban Roni, berusia 26 tahun, mengalami luka akibat serangan harimau di kebunnya. Saat ini korban menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Salahuddin, Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara," katanya di Banda Aceh, Kamis.

Berdasarkan informasi awal yang diterima BKSDA Aceh, kejadian bermula ketika korban sedang beraktivitas di kebun. Saat itu tiba-tiba terjadi interaksi dengan Harimau Sumatera hingga menyebabkan korban mengalami luka cukup serius.

Roni dilaporkan mengalami luka robek di bagian bibir atas dan luka cakaran di kepala akibat serangan satwa liar tersebut.

Usai menerima laporan kejadian, BKSDA Aceh langsung mengerahkan tim ke lokasi bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser dan mitra dari Forum Konservasi Leuser untuk melakukan pengecekan serta mendalami kronologi insiden.

"Tim juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan setempat, dan tenaga medis sebagai langkah penanganan lanjutan. Tim BKSDA juga telah mengunjungi korban dan keluarga guna memberikan dukungan moril serta menyerahkan tali asih," katanya.

Selain melakukan investigasi, petugas juga memasang kamera jebak di sekitar lokasi guna memantau keberadaan harimau dan mengidentifikasi pergerakan satwa tersebut.

BKSDA Aceh turut mengimbau masyarakat agar lebih waspada saat beraktivitas di wilayah yang dekat dengan habitat satwa liar, terutama kawasan hutan.

"Kami juga mengimbau masyarakat tidak beraktivitas seorang diri di kawasan hutan yang menjadi habitat satwa liar. Kami juga mengimbau masyarakat segera melaporkan kepada petugas terdekat apabila menemukan tanda-tanda keberadaan satwa liar di sekitar area aktivitas masyarakat," kata Ujang Wisnu Barata.

Harimau Sumatera sendiri merupakan satwa endemik Pulau Sumatera yang saat ini berstatus kritis atau terancam punah menurut daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Karena itu, masyarakat juga diingatkan untuk ikut menjaga kelestarian habitat harimau dengan tidak merusak hutan serta tidak melakukan perburuan maupun perdagangan satwa dilindungi.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka