Jakarta (KABARIN) - Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara bakal merekrut talenta dari berbagai negara untuk memperkuat sumber daya manusia PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).
Menurut Pandu, perekrutan tenaga ahli internasional dilakukan menyesuaikan kebutuhan dan kompleksitas sektor yang akan digarap DSI, mulai dari batu bara, crude palm oil (CPO), hingga ferro alloy.
“Jadi dari sisi sumber daya manusia, kami juga rekrut global. Bukan hanya di Indonesia. Semuanya global,” kata Pandu dalam acara Investor Daily Roundtable di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, sektor batu bara misalnya, memiliki jumlah trader yang sangat terbatas di dunia sehingga perusahaan perlu mencari tenaga profesional terbaik dari pasar global.
Kondisi serupa juga terjadi di industri CPO dan pembiayaan perdagangan atau trade financing yang banyak dikuasai talenta luar negeri.
Meski begitu, DSI tetap akan melibatkan sumber daya manusia dari BUMN agar transfer pengetahuan dan pengembangan kemampuan di bidang perdagangan komoditas bisa berjalan bersama.
Pandu menambahkan proses pembentukan tim DSI akan dilakukan bertahap, mengikuti pola pengembangan BPI Danantara yang dibangun sejak tahun lalu.
Dalam enam bulan ke depan, DSI bakal fokus membentuk tim untuk tiga sektor utama, yakni batu bara, CPO, dan ferro alloy sebelum ditargetkan beroperasi penuh pada Januari 2027.
Ia juga mengungkapkan DSI baru dibentuk pekan lalu dan pada Senin (25/5) resmi menjadi persero BUMN dengan kepemilikan saham 99 persen oleh BPI Danantara dan 1 persen oleh Badan Pengaturan (BP) BUMN.
Saat ini, posisi Direktur Utama DSI dijabat Luke Thomas Mahony.
Menurut Pandu, pembentukan DSI dilatarbelakangi persoalan under invoicing dan transfer pricing yang selama ini terjadi pada sejumlah komoditas ekspor Indonesia.
Awalnya terdapat dua opsi pembentukan badan ekspor tersebut, yakni menjadi lembaga pemerintah penuh atau beroperasi sebagai entitas bisnis. Namun Presiden Prabowo Subianto akhirnya memutuskan DSI berada di bawah Danantara.
Pada tahap awal mulai 1 Juni hingga 31 Desember 2026, DSI akan berperan sebagai penilai dan penghubung antara penjual serta pembeli komoditas ekspor tertentu.
Selanjutnya mulai Januari 2027, DSI ditargetkan mulai membeli komoditas dari eksportir domestik untuk kemudian dijual ke pasar internasional.
“Endgame-nya, paling tidak di Januari (2027), keinginan kami sudah bisa beli dan nanti jual ke market. Harapannya, kami juga bisa mendapatkan harga yang lebih baik dibandingkan saat ini karena semuanya bergantung pada daya tawar (bargaining power),” kata Pandu.
Sumber: ANTARA