Washington (KABARIN) - Amerika Serikat pada Kamis (1/1) mendorong China untuk menahan diri dan menghentikan tekanan militer terhadap Taiwan sekaligus memilih jalur dialog yang bermakna setelah Beijing menggelar latihan militer di sekitar pulau tersebut.
“Aktivitas dan retorika militer China terhadap Taiwan dan pihak lain di kawasan meningkatkan ketegangan yang tidak perlu,” kata Wakil Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott dalam sebuah pernyataan.
“Kami mendesak Beijing untuk menahan diri, menghentikan tekanan militernya terhadap Taiwan, dan memilih terlibat dalam dialog yang bermakna.”
AS menekankan dukungan pada perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan serta menentang upaya perubahan status quo secara sepihak, termasuk melalui kekuatan atau paksaan.
Latihan militer gabungan China yang disebut Justice Mission 2025 berlangsung sejak Senin, beberapa hari setelah AS menyetujui paket penjualan senjata ke Taipei senilai lebih dari 11 miliar dolar AS atau sekitar Rp183,9 triliun, yang menjadi nilai penjualan senjata tertinggi dalam sejarah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyatakan latihan itu sebagai “respons hukuman dan pencegahan terhadap kekuatan separatis kemerdekaan Taiwan yang berupaya meraih kemerdekaan melalui penguatan militer.”
Pemimpin Taiwan William Lai Ching-te menilai tindakan Beijing meningkatkan ketegangan militer di kawasan dan tidak mencerminkan sikap kekuatan dunia yang bertanggung jawab, sebagaimana dilaporkan Focus Taiwan. Ia menegaskan bahwa Taiwan tidak akan memprovokasi konfrontasi maupun mencari konflik dengan China.
China tetap memandang Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri sementara Taipei bersikeras mempertahankan kemerdekaannya sejak 1949.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026