Banyumas (KABARIN) - Suasana kaki Gunung Slamet yang biasanya identik dengan kesejukan dan ketenangan, Minggu ini berubah menjadi ruang refleksi bagi warga Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Sekitar 100 warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang turun langsung ke lokasi tambang pasir hitam di wilayah Desa Gandatapa, menyuarakan keresahan mereka terhadap aktivitas pertambangan yang dinilai merusak lingkungan.
Tanpa teriakan lantang atau orasi panjang, aksi damai ini justru dilakukan dengan cara yang hening namun penuh makna. Warga mendatangi area tambang di perbatasan Desa Gandatapa dan Limpakuwus, mengecek langsung kondisi lahan yang rusak, lalu memasang sejumlah spanduk penolakan di pagar dan pintu masuk kawasan tambang.
Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang, Eka Wisnu, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk solidaritas warga Sumbang terhadap masyarakat Gandatapa yang selama ini merasakan dampak langsung dari aktivitas penambangan.
“Kami bersolidaritas dengan warga Gandatapa. Pemasangan spanduk ini simbol sikap kami menolak tambang, karena dampaknya sangat nyata dan berbahaya untuk masa depan,” ujarnya.
Menurut Eka, penolakan warga bukan ditujukan pada pemerintah atau aturan yang berlaku, melainkan pada dampak jangka panjang yang ditinggalkan aktivitas tambang bagi lingkungan dan keberlangsungan hidup generasi mendatang.
“Kalau terus dibiarkan, anak cucu kita bisa mewarisi bencana. Itu yang kami khawatirkan,” katanya.
Dampak yang paling cepat dirasakan warga, lanjut Eka, adalah kerusakan infrastruktur jalan. Jalan yang sebelumnya baru diperbaiki kini kembali rusak di sejumlah titik akibat lalu lalang kendaraan berat dari kawasan tambang.
“Baru beberapa bulan sudah rusak lagi. Ironisnya, perbaikan selalu menunggu anggaran pemerintah, bukan dari pihak tambang,” ucapnya.
Tak hanya jalan, penurunan debit air juga menjadi keluhan serius warga. Kondisi ini berdampak langsung pada kebutuhan rumah tangga dan sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi warga sekitar.
Menariknya, di depan area tambang saat ini telah terpasang tanda pengawasan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Namun, menurut warga, aktivitas penambangan tetap berlangsung tanpa perubahan berarti.
“Pengawasan ada, tapi kegiatan tambang tetap jalan. Kami bukan alergi aturan, justru yang kami pertimbangkan adalah dampak jangka panjangnya,” tegas Eka.
Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang pun menyampaikan satu tuntutan utama: penutupan total aktivitas tambang di kawasan kaki Gunung Slamet tersebut. Mereka menilai penutupan sementara tidak cukup untuk menjawab keresahan masyarakat.
“Harapan warga jelas, tambang ini ditutup total. Sampai sekarang belum ada tindakan tegas, aktivitas masih berjalan,” kata Eka.
Editor: Suryanto
Copyright © KABARIN 2026