Jakarta (KABARIN) - Kementerian Agama bikin zakat nggak cuma jadi bantuan dadakan saat bencana, tapi sekarang bertransformasi jadi sistem perlindungan sosial umat yang lengkap dari darurat sampai pemulihan. Dari makanan siap saji, layanan kesehatan, sampai rumah sementara, semua dimaksimalkan buat penyintas bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag, Waryono Abdul Ghafur, bilang kalau zakat harus lebih dari sekadar empati sesaat. “Zakat nggak boleh berhenti sebagai respons darurat. Ia harus bekerja sebagai sistem perlindungan sosial umat, menjaga agar penyintas tetap punya akses pangan, air bersih, pendidikan, listrik, dan konektivitas untuk memulihkan kehidupannya,” ujar Waryono.
Lewat skema sinergi nasional zakat, dana umat diubah jadi bantuan terukur, mulai dari 385 ribu porsi makanan siap saji, 239 ribu paket sembako, layanan kesehatan di 37 pos, sampai pembangunan rumah sementara. Semua itu dijalankan oleh 5.874 relawan dan personel lapangan yang memastikan bantuan tepat sasaran dan berkelanjutan.
Selain tanggap darurat, fase pemulihan juga nggak kalah serius. Dompet Dhuafa membangun 1.000 unit Rumah Sementara (Rumtara), sementara Rumah Zakat fokus bikin 100 unit huntara di Aceh Utara sekaligus ngasih pelatihan konstruksi kayu untuk warga lokal.
Zakat juga jaga layanan dasar supaya kehidupan penyintas tetap lancar. Dari pendidikan, 29 ribu mushaf Al-Quran dan buku Iqra serta 3.548 paket bantuan siswa disalurkan. Untuk air bersih dan sanitasi, tersedia 1,3 juta liter air bersih, 60 sumur bor, dan 10 alat filter siap minum. Bahkan konektivitas juga dibantu dengan 35 genset dan 15 perangkat Starlink.
“Dengan pendekatan ini, zakat tidak lagi semata bergerak berdasarkan empati sesaat, tetapi menjadi instrumen kebijakan sosial-keagamaan yang menopang daya tahan masyarakat di tengah krisis yang semakin kompleks dan berulang,” tutup Waryono.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026