Ambon (KABARIN) -
Perjalanan menuju jantung Pulau Kelang dimulai dari pelabuhan kecil di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku. Pagi itu laut terlihat tenang, tetapi cuaca panas yang sejak awal terasa menyengat, tiba-tiba berubah menjadi sejuk, ketika speedboat yang kami tumpangi mulai memotong ombak menuju pesisir Desa Tonu Jaya, Kecamatan Huamual Belakang.
Perubahan suhu yang cepat terasa biasa bagi warga setempat, namun bagi pendatang, ia seperti isyarat awal tentang satu kenyataan penting: cuaca di wilayah ini tak pernah benar-benar bisa ditebak.
Dari kejauhan, Tonu Jaya tampak seperti lukisan alam yang tenang. Tebing-tebing menjulang mengapit desa, sementara garis pantainya memanjang sempit, seolah menjadi batas tipis antara daratan dan laut.
Di balik keindahan itu tersembunyi kerentanan yang nyata. Garis pantai yang rapuh, pemukiman yang berdekatan dengan alur air dari pegunungan, serta ketergantungan masyarakat pada laut dan hutan menjadikan desa ini sangat sensitif terhadap perubahan alam, sekecil apa pun.
Tonu Jaya berada di Pulau Kelang, pulau kecil yang secara administratif masuk Kabupaten Seram Bagian Barat. Dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007, Kelang dikategorikan sebagai pulau kecil karena luasnya di bawah 2.000 kilometer persegi, status yang bukan sekadar label administratif, tetapi penanda rapuhnya ruang hidup, ketika perubahan iklim mempercepat kerusakan alam.
Pulau Kelang dikelilingi oleh Laut Seram dan Laut Banda, dua perairan dalam yang dikenal memiliki dinamika arus kuat dan aktivitas geologi aktif. Kabupaten Seram Bagian Barat, secara konsisten berada dalam kategori risiko tinggi bencana, menurut Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI), terutama gempa bumi dan tsunami.
Dalam satu dekade terakhir, ancaman yang paling sering dirasakan warga bukan lagi gempa besar atau tsunami, melainkan bencana hidrometeorologi berulang: banjir, longsor, gelombang tinggi, dan cuaca ekstrem yang makin sulit diprediksi.
Perubahan iklim memperbesar risiko itu. Curah hujan menjadi tak menentu, musim bergeser, dan angin kerap datang di luar pola lama. Bagi pulau kecil, seperti Kelang, perubahan ini berdampak langsung pada keselamatan, mata pencaharian, dan keberlanjutan hidup.
Menyelami Nanaku
Kedatangan kami ke Pulau Kelang bukan sekadar mencatat angka kebencanaan, melainkan menyelami satu sistem pengetahuan lokal yang menjadi pegangan masyarakat Maluku: Nanaku. Dalam keseharian, Nanaku adalah cara membaca alam, menafsirkan tanda-tanda di langit, laut, hewan, tumbuhan, dan perubahan-perubahan kecil yang luput dari perhatian manusia modern.
Nanaku bukan sekadar kepercayaan atau warisan lisan. Ia adalah sistem adaptasi ekologis, terbentuk dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan alam. Dalam konteks kebencanaan, Nanaku berfungsi sebagai sistem peringatan dini informal yang memungkinkan masyarakat mengenali ancaman, sebelum ia benar-benar tiba.
Modernisasi, perubahan pola hidup, dan melemahnya transmisi pengetahuan membuat Nanaku semakin terpinggirkan. Apa yang dulu diwariskan melalui cerita, praktik, dan ritual, kini hanya hidup di ingatan para tetua.
Selama beberapa hari di Desa Tonu Jaya dan Desa Sole, kami menyaksikan bagaimana Nanaku masih dipraktikkan, meski tak lagi seutuh dulu. Dari pesisir hingga ladang, dari laut hingga perbukitan, masyarakat Kelang tetap membaca alam sambil belajar menyesuaikan diri di tengah iklim yang semakin tak pasti.
Banjir setiap tahun
Setelah berlabuh dan beristirahat di pesisir, kami berjalan menuju permukiman warga Tonu Jaya. Di kantor desa yang sederhana, kami bertemu Ode Rasno Judin, staf desa yang mengurusi administrasi dan kebencanaan. Di meja panjang yang memakan hampir separuh ruangan, pemerintah desa dan warga kerap berdiskusi soal mitigasi bencana, isu yang tak pernah benar-benar berhenti di sini.
Bagi warga Tonu Jaya, banjir bukan peristiwa luar biasa. Ia datang hampir setiap tahun, terutama pada Januari dan Februari. “Kalau hujan sudah lebih dari dua jam di atas sana, warga sudah tahu apa yang akan terjadi,” ujar Ode. Air dari pegunungan turun deras, masuk permukiman, dan merendam rumah-rumah di dataran rendah.
Mitigasi tidak hadir dalam bentuk tanggul beton. Fakta yang ada justru aturan sederhana, namun tegas: tidak menebang pohon di sekitar mata air, tidak membuka kebun terlalu dekat alur air, dan tidak membuang sampah ke sungai atau laut. “Kalau mata air mati, kampung juga mati,” kata Ode. Prinsip ekologis ini menunjukkan pemahaman utuh warga terhadap hubungan hulu dan hilir.
Hanya saja, menjaga keseimbangan alam tidak selalu sejalan dengan kebutuhan ekonomi. Puluhan keluarga menggantungkan hidup pada sumber daya yang sama yang harus mereka jaga.
Kebijakan desa
Kesadaran itu, kini juga diterjemahkan dalam dokumen dan kebijakan. Pemerintah desa mulai menyisihkan Dana Desa untuk kesiapsiagaan bencana, meski jumlahnya terbatas. Anggaran harus diperas di antara kebutuhan pembangunan fisik dan pemberdayaan ekonomi. Prioritas tidak selalu soal membangun yang baru, tetapi melindungi yang menjaga kehidupan.
Di Desa Sole, upaya ini semakin terasa mendesak, setelah peristiwa longsor di daerah Jawa Sakti yang masih membekas. Pemerintah desa berusaha membangun kesadaran kolektif: mencatat tanda-tanda alam, menyiapkan rencana evakuasi sederhana, hingga menginventarisasi kelompok rentan. Tantangan terbesar adalah keterbatasan tenaga dan anggaran.
“Tidak bisa hanya berharap satu dua orang,” ujar perangkat desa Muhammad Arsad Pegatong. Ia berharap pemerintah kabupaten dan provinsi hadir, bukan saat rumah sudah hanyut atau tanah sudah turun, tetapi ketika tanda-tanda itu mulai terlihat.
Nanaku bekerja sebagai penanda awal. Menjaga desa tetap hidup membutuhkan keputusan yang berani, perencanaan yang matang, dan penggunaan anggaran, walau sedikit, untuk mengantisipasi, bukan menanggulangi.
Sirene alami
Perjalanan berlanjut ke Desa Sole, sekitar 30 menit dari Tonu Jaya. Jika Tonu akrab dengan banjir, Sole lebih sering berhadapan dengan longsor dan gelombang tinggi. Di sini, perilaku hewan menjadi bagian penting dari Nanaku.
Muhammad Arsad masih mengingat subuh, saat anjing menggonggong tanpa henti, ayam berkokok tidak pada waktunya, dan burung bersuara riuh, tanda yang oleh orang tua-tua disebut peringatan. Saat itu banyak yang mengabaikan. Beberapa jam kemudian, longsor besar terjadi dan memaksa warga mengungsi.
Pengetahuan semacam itu masih hidup, namun semakin jarang diperhatikan generasi muda yang lebih percaya aplikasi cuaca daripada naluri alam.
“Jangan tunggu bencana dulu baru bergerak,” katanya. Harapannya sederhana: pengakuan bahwa pengetahuan lokal adalah bagian dari sistem mitigasi yang sah.
Menghitung langit
Di pesisir Tonu dan Sole, laut tidak pernah diperlakukan sebagai ruang yang bisa ditaklukkan. Ia dibaca, ditunggu, dan dihormati. Keputusan melaut tidak pernah diambil secara sembarangan.
La Jirami (65), nelayan Tonu yang telah melaut selama lebih dari tiga dekade, duduk bersila di lantai rumahnya, ia tampak lelah karena seharian memperbaiki perahu mancing milik anaknya. Sesekali ia mengelap keringat yang bercucuran pada wajah cokelat tua keriput itu.
Ia menjelaskan bagaimana ia membaca tanda alam. “Kalau bulan (tanggal) 15 atau 30 (kalender Arab), air besar. Ombak naik. Lebih baik tunggu,” katanya. Hitung-hitungan itu diwarisi dari orang tuanya, jauh sebelum prakiraan cuaca tersedia di ponsel.
Prediksi cuaca menggunakan metode Nanaku yang sering digunakan oleh kebanyakan nelayan Tonu sendiri, sering berdasarkan siklus bulan dan tanggal.
Nelayan sangat bergantung pada pengamatan fase bulan dan tanggal tertentu (misalnya, bulan 15 hingga bulan 30), atau biasa diistilahkan “bulan langit” untuk memprediksi kondisi cuaca dan ketinggian air pasang.
Perubahan iklim membuat perhitungan itu kerap meleset. Musim barat yang dulu dikenal ganas, kini sering datang dengan watak yang berbeda. Kadang tenang, lalu tiba-tiba berubah menjadi badai. Karena itu, nelayan, kini mulai menggabungkan Nanaku dengan informasi dari BMKG.
“Nanaku adalah warisan, selama kurang lebih tiga puluh tahun melaut, alhamdulillah, pergi selamat, pulang selamat. Itu karena ikut ajaran orang tua-tua.” Kalimat itu keluar dari balik kumis La Jirami yang mulai beruban.
Tidak berbeda jauh, kepercayaan Nanaku seakan menjadi tombak hampir seluruh nelayan di sekitar pulau itu. La Hadi Ode (45), nelayan Sole, menyebut teknologi sebagai pelengkap, bukan pengganti. “Aplikasi kasih angka. Tetapi laut punya rasa,” ujarnya. Pengalaman bertahun-tahun membuat mereka tahu bahwa tidak semua bisa diterjemahkan oleh grafik dan peta.
La Hadi menyeruput kopi buatan sang isteri. Kulitnya yang berwarna cokelat mengilap itu seolah memberi tanda bahwa ia adalah nelayan sejati. Bagi nelayan Sole, kabut pagi adalah pesan awal. Jika kabut turun, ombak biasanya sedang bergerak. Mereka menengadah ke langit, memerhatikan bulan.
“Bulan baru, sering berarti gelombang. Sementara bulan purnama cenderung lebih tenang, namun cuaca, kini tak lagi sama seperti dulu,” ucapnya.
Ia diam sejenak, matanya melirik ke dinding rumahnya yang baru dibeton itu. Tatapannya seolah sedang mengenang masa-masa di mana mendapatkan ikan masih sangat mudah. Katanya, kini musim barat berubah watak. Desember yang dahulu dikenal ganas, kini kadang sulit ditebak. Karena itu, nelayan tak hanya menghitung tanggal, tapi juga membaca hari. Hari yang dipercaya membawa pengaruh pada laut.
Selain itu, langit malam menjadi kitab terbuka bagi nelayan Sole. Membaca alam tidak sebatas kabut, tidak juga berakhir di bulan. Ketika semua bintang keluar, laut dipercaya sedang ramah. Rasi tertentu menjadi penanda cuaca baik. Sebaliknya, angin adalah peringatan. Angin barat atau barat daya hampir selalu membawa ombak. Arah angin tak selalu sejalan dengan arah gelombang, dan di situlah pengalaman berbicara, pengetahuan yang tak bisa sepenuhnya diterjemahkan oleh aplikasi.
Dengan ketidakpastian cuaca dan pengetahuan Nanaku yang kadang gagal akibat iklim tak pasti, nelayan Tonu dan Sole membuat kalender musim perikanan. Kedua desa ini punya pemetaan yang mirip. Setiap tahun, kehidupan masyarakat desa bergerak dalam ritme yang sama: laut menentukan langkah, angin memberi isyarat, dan nelayan membaca tanda-tanda alam, sebelum mereka menurunkan jaring ke permukaan air.
Tidak ada bulan yang berjalan tanpa cerita, dan tidak ada musim yang datang, tanpa menuntut penyesuaian. Kalender musim perikanan di kedua desa pesisir itu bukan sekadar catatan, melainkan pengetahuan turun-temurun yang menentukan dapur dan hidup banyak keluarga. Kalender musim dapat digunakan untuk membantu menemukan perubahan-perubahan kerentanan, kapasitas dan ancaman dalam kurun waktu setahun.
Kalender musim dibuat dengan memetakan bulan-bulan beserta musim atau kondisi cuacanya. Seperti musim barat: Januari–Maret,awal tahun dimulai dengan gelombang tinggi dan angin kencang. Januari menjadi puncak musim barat, saat perahu lebih sering disandarkan di pesisir. Sebagian nelayan memilih menunda melaut demi keselamatan, sementara yang lain tetap bergerak hati-hati di wilayah terlindung, Sanahuni, Haya Pulau, dan perairan dekat kampung.
Pendapatan pun sering menurun, terlebih ketika pasokan ikan menyusut. Saat pria berjaga dengan jaring robek yang diperbaiki, para perempuan turun ke pesisir mencari kerang, memastikan tetap ada pangan yang dibawa pulang. Di sisi lain, nelayan tuna yang lebih berpengalaman berani menyasar wilayah yang lebih jauh, Buano, Buru, bahkan Obi Sanana.
Februari tidak banyak berubah. Angin musim barat masih kuat, hujan turun hampir setiap hari, dan hasil tangkap tetap bergantung pada hari-hari cerah yang jumlahnya terbatas. Ikan banyak terkonsentrasi di rumpon yang jauh, hingga 25–45 mil. Harga ikan tinggi, tapi tantangan mencapainya juga besar. Pada bulan ini, perawatan rumpon dan disiplin keselamatan menjadi kunci.
Memasuki Maret, laut mulai sedikit bersahabat, tetapi arus masih kuat dan hujan kerap turun. Nelayan mulai melaut terbatas, namun pola munculnya ikan berubah. Hasil tangkapan turun, sementara biaya operasional tetap. Di titik ini, banyak nelayan mulai belajar membaca migrasi ikan, melalui pelatihan, aplikasi digital, dan berbagi pengalaman antarkampung.
Pancaroba menuju timur: April–Mei, adalah masa transisi. Laut perlahan mereda, hujan berkurang, namun angin tak selalu bisa diprediksi. Nelayan jaring bobo mulai aktif kembali, menyasar rumpon 4–5 mil, meski hasilnya belum stabil. Sampah laut kiriman muncul, menandai musim pancaroba.
Mei memberi jeda: laut teduh, angin melemah, tetapi air sering keruh. Hasil tangkapan naik-turun, bergantung pada keberuntungan membaca arah arus dan migrasi ikan. Di bulan ini, pemasangan rumpon tambahan, memantau cuaca lewat ponsel, dan memperbaiki perahu menjadi rutinitas tak terhindarkan.
Musim timur: Juni–Agustus. Ketika Juni datang, Musim timur resmi mengambil alih. Angin dari selatan-tenggara kencang mengobrak-abrik permukaan laut. Ombak setinggi 1–2 meter membuat banyak nelayan memilih menepi dan mengalihkan tenaga ke darat, bertani, berdagang, atau mengolah ikan hasil tangkapan sebelumnya menjadi ikan kering atau abon.
Juli adalah puncak cobaan. Angin tak berhenti menderu, gelombang memukul keras perahu yang nekat keluar. Banyak keluarga harus mencari cara lain menyambung nafkah. Sebagian nelayan masih bergerak mencari ikan ke wilayah yang terlindung —Haya Pulau, Jawa Sakti, Waisala, atau Waiyeli— mengandalkan pengalaman mengelola risiko.
Agustus membawa suasana serupa. Gelombang tinggi, pendapatan menyusut, dan sebagian besar lelaki laut memanfaatkan waktu untuk memperbaiki kapal, menata jaring, dan mengikuti pelatihan keselamatan. Asuransi nelayan menjadi penting dalam bulan-bulan seperti ini.
Menjelang Akhir Timur: September–Oktober. Pada September, angin timur mulai melemah. Laut kembali bersahabat, namun wilayah timur Desa Sole —Rahai dan Sanahuni— masih sulit dilayari. Nelayan kembali menyasar rumpon tuna dan memancing di pesisir, menjemput hasil yang mulai stabil. Kampung hidup lagi dengan suara mesin perahu setiap pagi.
Oktober membawa panas siang yang terik, laut yang berubah antara tenang dan garang. Para ibu kembali “bameti” —mencari kerang saat air surut— dan “bamolo”, menyelam mencari hasil laut lain di dasar dangkal. Ikan mulai berpindah ke lokasi baru, membuat nelayan terus memindahkan rumpon atau menambah yang baru.
Kembali Pancaroba: November–Desember, menjelang pengujung tahun, laut kembali tenang walau hujan mulai turun. November menjadi bulan di mana nelayan aktif lagi di laut lepas, namun biaya operasional meningkat karena ikan tak selalu berada di tempat yang sama. Banyak keluarga mengolah hasil laut agar bisa disimpan lebih lama, memperpanjang manfaat setiap tangkapan.
Desember menjadi momen istimewa: puncak musim tuna mata bulan. Nelayan berbondong-bondong menuju rumpon dengan harapan besar. Meski pendapatan tak selalu stabil dan cuaca kembali sulit ditebak, semangat kembali penuh. Dua belas bulan berputar, menutup lingkaran ritme alam dan tradisi nelayan Desa Sole.
Kalender musim perikanan Desa Tonu dan Sole menunjukkan satu hal: kehidupan di laut adalah seni membaca tanda awan, angin, ombak, cahaya bulan, hingga arus dingin yang mengubah warna laut.
Di tengah perubahan iklim, musim yang semakin sulit diprediksi, dan jarak tangkap yang kian jauh, nelayan Sole dan Tonu tetap hadir dengan warisan kecakapan: beradaptasi, belajar, dan bertahan. Karena bagi mereka, laut bukan hanya lapangan kerja, ia adalah guru, sumber kehidupan, dan halaman depan rumah yang selalu menanti untuk dijelajahi kembali.
Copyright © KABARIN 2026