Jakarta (KABARIN) - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat laporan Morgan Stanley Capital International bersifat sementara.
Purbaya mengatakan penurunan IHSG dipicu penilaian MSCI soal transparansi pasar saham Indonesia dan rendahnya tingkat floating sejumlah emiten. Laporan itu disebut membuka praktik manipulasi harga saham.
"Ini hanya shock sesaat. Jadi pasti perusahaan-perusahaan itu akan bisa memenuhi syarat MSCI dan akan bisa masuk ke indeksnya MSCI maupun ya saham yang boleh diinvestasi oleh perusahaan-perusahaan asing global gitu," ujar Purbaya saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu.
Menkeu menyebut sudah berkomunikasi dengan Ketua OJK yang memastikan seluruh laporan MSCI akan beres sebelum batas waktu, sekitar Mei 2026. Ia optimistis perusahaan-perusahaan terkait akan memenuhi persyaratan MSCI dan kembali masuk indeks global.
Purbaya juga menekankan IHSG akan pulih seiring perbaikan fundamental ekonomi nasional. Saat ini ekonomi Indonesia berada di tren positif berkat sinkronisasi kebijakan fiskal, moneter, dan investasi.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 6 persen tahun ini bahkan bisa bertambah lebih cepat. Dari sisi fiskal, pengumpulan pajak dan cukai akan diperbaiki agar lebih optimal tanpa menaikkan tarif, sementara belanja kementerian dan lembaga akan tepat waktu dan tepat sasaran.
"Jadi kalau bursa saham jatuh gara-gara itu, dan kita tahu itu akan diperbaiki dalam waktu yang tidak terlalu lama sebelum bulan Mei, harusnya sekarang a good time to buy," tambahnya.
Pada Rabu sore, IHSG memang ditutup melemah 659,67 poin atau 7,35 persen ke posisi 8.320,55, sementara indeks LQ45 turun 63,58 poin atau 7,26 persen ke posisi 812,53.
Pengamat Reydi Octa menilai penurunan itu lebih karena reaksi emosional dan panic selling jangka pendek, bukan karena fundamental ekonomi atau kinerja emiten berubah.
"Pengumuman MSCI yang tidak memberikan tambahan bobot maupun rebalancing bagi saham Indonesia menjadi pemicu awal tekanan pasar, namun penurunan IHSG hingga memicu trading halt lebih mencerminkan reaksi emosional dan aksi panic selling jangka pendek," ujar Reydi.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026