BPH Migas Pastikan Pasokan BBM Nasional Tetap Aman

waktu baca 2 menit

pemerintah sudah menyiapkan langkah preventif dengan mengimpor minyak dari negara yang tidak terdampak konflik

Jakarta (KABARIN) - Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fathul Nugroho memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia masih dalam kondisi aman meskipun situasi di Timur Tengah memanas setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran.

Ia meminta masyarakat tidak panik menghadapi perkembangan konflik di kawasan tersebut. Pemerintah disebut telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi jika pasokan minyak dari wilayah Timur Tengah terganggu.

“Sekarang sekitar 19 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Saudi Arabia (Timur Tengah), Kendati demikian, pemerintah sudah menyiapkan langkah preventif dengan mengimpor minyak dari negara yang tidak terdampak konflik,” kata Fathul Nugroho dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Menurutnya, penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz tidak memberikan dampak besar bagi pasokan energi Indonesia. Hal itu karena sebagian besar impor minyak mentah nasional berasal dari negara yang tidak terlibat konflik di kawasan tersebut.

Fathul menjelaskan sekitar 81 persen minyak mentah yang diimpor Indonesia berasal dari negara di luar kawasan konflik.

Data impor menunjukkan Nigeria menjadi pemasok terbesar minyak mentah bagi Indonesia dengan jumlah sekitar 34,07 juta barel dalam periode April 2025 hingga Maret 2026 atau sekitar 25 persen dari total impor.

Sementara itu impor dari Angola mencapai sekitar 28,50 juta barel atau sekitar 21 persen. Impor dari berbagai negara lain tercatat sekitar 47,40 juta barel atau sekitar 35 persen.

Adapun pasokan dari Arab Saudi tercatat sekitar 28,50 juta barel atau setara dengan 19 persen dari total impor minyak mentah Indonesia.

“Artinya kita lebih banyak mengimpor dari negara yang tidak terlibat konflik. Artinya pasokan BBM Indonesia tetap aman,” ujar Fathul.

Ia juga meminta masyarakat tidak keliru menafsirkan informasi yang menyebut cadangan BBM Indonesia hanya cukup untuk sekitar 20 hari.

Menurutnya angka tersebut berkaitan dengan kapasitas penyimpanan yang tersedia di fasilitas milik Pertamina. Jumlah bahan bakar yang tersimpan di tangki tidak menggambarkan keseluruhan pasokan energi yang dimiliki Indonesia.

Saat ini kapasitas penyimpanan BBM nasional milik Pertamina tercatat sekitar 6,10 juta kiloliter atau sekitar 67 persen dari total kapasitas penyimpanan.

Sementara fasilitas penyimpanan milik perusahaan selain Pertamina mencapai sekitar 3,06 juta kiloliter atau sekitar 33 persen.

“Hingga saat ini cadangan operasional BBM Indonesia masih tergolong aman, termasuk untuk memenuhi kebutuhan setelah momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026,” katanya.

Sumber: ANTARA

Bagikan

Mungkin Kamu Suka