News

Irak Coba Redakan Ketegangan AS-Iran Lewat Mediasi

Istanbul (KABARIN) - Irak semakin aktif bergerak di jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan yang kembali memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Baghdad memposisikan diri sebagai mediator, dengan tujuan mencegah potensi konflik militer sekaligus menahan risiko ketidakstabilan yang bisa meluas ke kawasan Timur Tengah.

Menurut laporan media Irak, pemerintah Baghdad terus menjalin komunikasi intensif dengan Washington dan Tehran. Upaya ini dilakukan demi “menjauhkan kawasan dari bayang-bayang perang,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Irak Hisham Al-Alawi, seperti dikutip media lokal Shafaq News dalam laporan yang terbit Kamis (29/1).

Al-Alawi menilai Irak punya peran strategis karena menjalin hubungan baik dengan kedua pihak yang sedang bersitegang. Kedekatan diplomatik tersebut membuat Irak bisa berfungsi sebagai jalur komunikasi di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional soal kemungkinan eskalasi konflik.

Ia juga mengungkapkan bahwa Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein sempat berkunjung ke Tehran sekitar dua pekan lalu. Dalam kunjungan itu, Fuad Hussein bertemu dengan para pejabat Iran dan menyampaikan keinginan Baghdad untuk menurunkan tensi militer serta mendorong penyelesaian masalah antara AS dan Iran lewat diplomasi.

Al-Alawi mengingatkan, dampak eskalasi konflik tidak akan berhenti di Irak saja. Menurutnya, seluruh kawasan bisa ikut terdampak. Ia menyinggung konflik yang terjadi pada Juni lalu antara Israel dan Iran sebagai contoh nyata besarnya risiko jika ketegangan berubah menjadi konfrontasi terbuka.

“Irak memiliki kepentingan nasional untuk bekerja sama dengan negara-negara tetangga dan Amerika Serikat untuk mempromosikan stabilitas regional dan mengatasi masalah nuklir dan isu-isu lainnya melalui diplomasi,” katanya.

Ia menambahkan, Baghdad berupaya memaksimalkan hubungan baiknya dengan AS dan Iran untuk menjaga stabilitas kawasan. Bahkan, Irak bersama sejumlah negara lain sebelumnya disebut pernah berperan dalam mencegah terjadinya serangan militer terhadap Iran.

Langkah Irak ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan Tehran–Washington dalam beberapa pekan terakhir. Situasi memanas setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa “armada besar” sedang bergerak menuju Iran, sambil mendesak Tehran agar “datang ke meja perundingan” untuk bernegosiasi.

Di sisi lain, para pejabat Iran memperingatkan bahwa setiap serangan dari AS akan dibalas dengan respons yang “cepat dan komprehensif.” Meski begitu, Tehran tetap menyatakan terbuka untuk dialog, dengan catatan pembicaraan dilakukan berdasarkan “syarat yang adil, seimbang, dan tidak memaksa.”

Di tengah situasi panas ini, Irak berharap perannya sebagai penengah bisa membantu meredakan tensi dan mencegah kawasan kembali terjerumus ke konflik yang lebih besar.

Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026
TAG: