Jakarta (KABARIN) - Komika Pandji Pragiwaksono bersilaturahim dan tabayun ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait materi stand up comedy "Mens Rea" yang belakangan menjadi perhatian sejumlah pihak, khususnya yang berkaitan dengan isu keagamaan.
Pandji mengatakan kedatangannya ke MUI bertujuan untuk menjelaskan maksud dan konteks pertunjukan stand up comedy yang dibawakannya, termasuk sejumlah materi yang dinilai memerlukan penjelasan lebih mendalam.
“Saya datang niatnya untuk menjelaskan, sebenarnya untuk bertabayun. Untuk menjelaskan maksud dari pertunjukan saya, maksud dari sejumlah jokes saya yang kelihatannya butuh untuk dielaborasi lebih dalam," ujar Pandji usai pertemuan di kantor MUI di Jakarta, Selasa.
Ia menyampaikan apresiasi atas berbagai masukan dan ilmu yang diberikan dalam pertemuan tersebut. Menurut Pandji, sebagai insan kreatif, dirinya menyadari selalu ada ruang untuk perbaikan dalam berkarya.
“Saya sadar sebagai orang yang berkarya selalu ada ruang untuk bisa lebih baik dan lebih benar lagi. Itu yang diingatkan, dan saya berterima kasih atas arahannya,” katanya.
Pandji juga menegaskan tidak pernah memiliki niat untuk menciptakan kegaduhan di tengah masyarakat. Ia berkomitmen untuk lebih cermat dalam menyusun materi komedi ke depan, terutama yang bersinggungan dengan isu keagamaan.
“Kalau kegaduhan itu terjadi karena kurang cermatnya saya dalam menulis jokes, tentu saya ingin menciptakan jokes yang lebih baik lagi, menghindari topik-topik yang bisa menimbulkan kegaduhan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam menyatakan pihaknya menerima silaturahim Pandji sebagai bentuk itikad baik untuk melakukan tabayun atas materi yang sempat ramai diperbincangkan publik.
“Hari ini kita menerima silaturahim dari Bang Pandji dan teman-teman untuk tabayun atas masalah yang sempat ramai dan menjadi perhatian publik,” katanya.
Ia menjelaskan dalam pertemuan tersebut turut hadir Sekretaris Komisi Fatwa MUI yang memiliki tugas memberikan panduan keagamaan kepada masyarakat. Informasi yang disampaikan dalam tabayun dinilai penting untuk menilai secara utuh konteks pertunjukan serta potongan video yang beredar di publik.
“Setiap orang bisa punya persepsi yang berbeda. Karena itu diperlukan proporsionalitas dalam melihat konteksnya sebelum memberikan pandangan keagamaan,” ujarnya.
Asrorun menambahkan dalam pertemuan tersebut juga disampaikan komitmen untuk melakukan perbaikan, khususnya terkait materi komedi yang bersinggungan dengan isu keagamaan dan berpotensi menimbulkan multitafsir.
“Kami mengapresiasi kehadiran Bang Pandji sebagai bentuk niat baik untuk tabayun dan silaturahim. Ini merupakan hal yang positif,” katanya.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026