Bogota (KABARIN) - Amerika Serikat mulai tancap gas untuk mendorong peningkatan besar produksi minyak Venezuela. Menteri Energi AS Chris Wright menargetkan lonjakan hingga 30 sampai 40 persen dalam waktu dekat setelah meninjau langsung kawasan minyak utama di Sabuk Orinoco, Kamis.
Langkah ini datang setelah perubahan besar dalam hubungan politik kedua negara. Pemerintah AS melonggarkan sanksi lama dan membuka kembali kerja sama energi, termasuk mencabut embargo minyak yang selama bertahun-tahun membatasi sektor energi Venezuela.
Saat mengunjungi Petroindependencia, kerja sama antara perusahaan minyak negara Venezuela PDVSA dan perusahaan energi AS Chevron, Wright menyampaikan optimismenya.
“Kami memperkirakan akan melihat pertumbuhan 30-40 persen dalam produksi minyak Venezuela tahun ini,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa kebijakan baru ini diharapkan membawa dampak positif bagi banyak pihak.
“Kita harus mengubah permainan di sini untuk kemenangan bagi rakyat Venezuela, kemenangan bagi Amerika, dan kemenangan bagi seluruh Kawasan Barat,” tambahnya.
Saat ini, Petroindependencia baru memproduksi sekitar 40.000 barel per hari. Namun, para ahli menyebut kapasitas infrastrukturnya sebenarnya bisa jauh lebih besar. Dengan perbaikan teknis dan investasi cepat, produksi disebut berpotensi melonjak hingga 300.000 barel per hari.
Kunjungan Wright dilakukan sehari setelah pemerintah AS secara resmi mengumumkan berakhirnya embargo minyak terhadap Venezuela.
“Karantina minyak ini jelas pada dasarnya telah berakhir,” ujarnya.
Dari Washington, Presiden AS Donald Trump juga menyuarakan optimisme. Ia menyebut hubungan AS dan Venezuela sedang memasuki fase kerja sama yang positif dan penuh peluang.
Pertemuan ini juga jadi momen bersejarah karena menjadi kunjungan pertama anggota kabinet Presiden Trump ke Venezuela, menandai babak baru hubungan kedua negara setelah bertahun-tahun diwarnai ketegangan politik dan sanksi ekonomi.
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026